Evaluasi Program Jadi Ganjalan Serapan Belanja

Senin 25-05-2026,22:03 WIB
Reporter : Syirojul Umam
Editor : Sutanto

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Kinerja pe­nye­rapan anggaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten di paruh pertama tahun ang­garan 2026 berjalan lambat. Memasuki akhir Mei, realisasi belanja daerah tercatat baru menyentuh angka kisaran 28 persen, meleset dari target perencanaan yang telah di­tetapkan.

Kondisi ini memicu ke­kha­watiran dari berbagai pihak, mengingat lambatnya serapan anggaran daerah berisiko meng­hambat akselerasi pem­ba­ngunan serta laju per­tum­­buhan ekonomi di Provinsi Banten.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, Deden Ap­riandhi Hartawan, mengung­kapkan bahwa perlambatan ini merupakan dampak dari kebijakan evaluasi total terha­dap program kerja di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kebijakan ini diambil demi menjamin efektivitas anggaran agar tepat sasaran.

Namun di sisi lain, penge­tatan evaluasi ini memicu efek domino berupa keterlambatan pengajuan agenda kerja hingga tersendatnya proses lelang proyek.

"Serapan anggaran kita saat ini memang masih di bawah target. Pemicu utamanya ka­rena adanya evaluasi menye­luruh, sehingga OPD cende­rung berhati-hati dalam me­­ngusulkan kegiatan. Bah­kan, proses lelang pun baru berjalan di beberapa titik," katanya saat ditemui di gedung DPRD Banten, KP3B, Kota Serang, Senin (25/5).

Deden menegaskan, Pem­prov Banten sengaja memilih mengutamakan pemetaan yang matang daripada ter­buru-buru mengeksekusi ang­garan tanpa dampak konkret bagi masyarakat.

Meski angka serapan di atas kertas minim, Deden meminta publik tidak langsung me­nyim­pulkan bahwa proyek di lapangan mandek. Ia men­jelaskan adanya perbedaan ritme antara pencairan dana dan progres fisik pekerjaan. Banyak proyek fisik yang mekanismenya menggunakan sistem pembayaran di akhir atau setelah mencapai termin tertentu.

"Kita harus melihat dua sisi, capaian anggaran dan capaian kinerja. Bisa jadi realisasi ang­garan baru sekitar 25 per­sen karena sistem pem­bayarannya belakangan, tetapi progres fisik di lapangan sebenarnya terus berjalan sesuai target," ungkapnya.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Banten, Mahdani, membenarkan bahwa angka serapan belanja daerah masih tertahan di kisaran 28 persen. Walau demikian, dari sektor hulu, realisasi pendapatan daerah menunjukkan perfor­ma yang sedikit lebih baik.

"Untuk serapan belanja saat ini 28 persen, sementara realisasi pendapatan sudah berada di angka sekitar 30 persenan," jelasnya.

Ketika dikonfirmasi me­ngenai hambatan spesifik terkait minimnya serapan tersebut, Mahdani enggan berkomentar jauh. Ia menyebut kapasitas BPKAD hanya sebatas mengelola lalu lintas kas daerah.

"Kalau bicara kendala detail, pihak Bapenda yang lebih tahu karena mereka yang mengurusi sektor pendapatan secara langsung. Kami di BPKAD fokus pada penge­lolaan anggaran dan menerima setoran ke kas daerah," papar­nya. (mam)

Kategori :