TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Gubernur Banten Andra Soni akan menggandeng diaspora, baik yang ada di dalam maupun luar negeri, untuk berkontribusi dalam pengembangan Provinsi Banten menjadi daerah yang lebih baik, khususnya dalam percepatan dan pemerataan ekonomi daerah.
Menurut KBBI, diaspora adalah orang tinggal dan menetap jauh dari negaranya untuk berbagai kepentingan (belajar, tugas, kerja, misi sosial, dan sebagainya).
Andra mengatakan, pembangunan Banten untuk ke depan tidak bisa hanya mengandalkan APBD, melainkan membutuhkan sinergi luas, termasuk dari diaspora.
“Kita butuh kolaborasi. Dengan keterbatasan fiskal, setiap langkah pembangunan harus tepat sasaran dan berdampak,” katanya dalam kegiatan Kumpul Jeung Dulur Diaspora Banten yang dirangkaikan dengan dialog interaktif “Rembuk Ngariung Jeung Dulur” di Mercure Kemayoran, Jakarta, Sabtu (28/3).
Menurutnya, di tengah berbagai tantangan global dan keterbatasan fiskal daerah, Andra mengakui pembangunan tidak berjalan mudah. Konflik global, tekanan ekonomi, hingga dampak kemarau panjang menjadi tantangan nyata yang dihadapi Banten. Namun demikian, ia menegaskan optimisme harus tetap dijaga.
“Kita harus jujur bahwa ruang fiskal terbatas. Tapi optimisme tidak boleh padam. Kita harus terus membangun,” tegasnya.
Maka dari itu, Andra Soni mengajak diaspora mengambil peran konkret dalam pembangunan daerah, mulai dari menjadi duta promosi, mentor bagi generasi muda, hingga mitra strategis investasi.
“Jarak boleh memisahkan kita, tapi cinta pada Banten akan selalu mempersatukan kita. Mari kita pastikan tidak ada lagi mimpi anak Banten yang terkubur karena kemiskinan,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Andra memaparkan sejumlah program konkret yang telah dan sedang berjalan, mulai dari pembangunan jalan desa sepanjang 67,87 kilometer dengan anggaran Rp184 miliar, hingga revitalisasi irigasi lebih dari 123 kilometer dengan dukungan APBN dan APBD.
Di sektor pendidikan, Pemprov Banten menjalankan program unggulan Sekolah Gratis yang menjangkau lebih dari 60.705 siswa di 801 sekolah swasta, serta program “Satu Sarjana Satu Desa” untuk 1.238 desa.
Sementara itu, di tempat yang sama, Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan kesiapan kementeriannya untuk berkolaborasi dengan Pemprov Banten.
Ia mengaku, konsep transmigrasi saat ini telah berubah, tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.
“Konsep transmigrasi sekarang adalah membangun kawasan ekonomi baru. Kami bahkan sedang mencari lahan di Banten untuk pengembangan kawasan industri,” katanya.
Menurutnya, peluang tersebut terbuka lebar dengan dukungan kerja sama antarinstansi, bahkan dengan pihak luar negeri.
“Kami siap mendukung Pak Gubernur Banten. Apa pun yang dibutuhkan, dengan sumber daya yang kami miliki, kami siap bantu,” tegasnya. (mam)