BJB FEBRUARI 2026

Penutupan SPPG Berdampak pada Program MBG, Siswa Kehilangan Makanan Saat Jam Istirahat

Penutupan SPPG Berdampak pada Program MBG, Siswa Kehilangan Makanan Saat Jam Istirahat

Siswa di wilayah Kabupaten Tangerang meminta MBG tetap ada karena sangat bermanfaat bagi para siswa.(Randy/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Banten oleh pemerintah pusat memberikan dampak langsung terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dinikmati para siswa di sejumlah sekolah.

Kebijakan tersebut membuat distribusi makanan bagi siswa terhenti, sehingga banyak pelajar merasa kehilangan manfaat yang sebelumnya mereka rasakan setiap hari sekolah.

Program MBG sebelumnya menjadi salah satu fasilitas yang dinantikan siswa, terutama saat jam istirahat. Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi, program ini juga meringankan beban siswa yang tidak membawa bekal dari rumah maupun yang memiliki keterbatasan uang jajan.

Sejumlah siswa mengaku sedih karena tidak lagi mendapatkan makanan setelah penutupan SPPG. Padahal, keberadaan MBG dinilai sangat membantu aktivitas belajar mereka di sekolah.

Herman Abdullah, siswa kelas 8 SMPN 3 Teluknaga mengatakan, program MBG memiliki manfaat besar bagi dirinya. Ia berharap program tersebut dapat kembali berjalan karena sangat membantu kebutuhan makan saat berada di sekolah.

“MBG sangat bermanfaat bagi saya saat jam istirahat. Jadi tidak perlu repot membawa bekal dari rumah. Saya berharap program ini tetap ada, hanya saja menunya bisa lebih variatif supaya tidak bosan,” ujar Herman kepada Tangerang Ekspres, Minggu (29/3)

Hal senada disampaikan Yunita, siswa kelas 7 SMPN 2 Pagedangan. Ia mengaku merasa terbantu sejak adanya program MBG karena dapat menghemat uang jajan sekaligus mengurangi beban orang tua dalam menyiapkan bekal harian.

“Saya senang mendapat MBG karena bisa menghemat uang jajan dan orang tua juga tidak perlu pusing menyiapkan bekal,” katanya.

Meski demikian, Yunita berharap kualitas menu dapat lebih diperhatikan ke depannya. Ia mengungkapkan pernah menerima makanan yang kurang layak konsumsi.

“Harapannya menu bisa lebih baik lagi, karena pernah beberapa kali makanan yang diberikan tidak sesuai, bahkan pernah roti yang dibagikan berjamur,” ungkapnya.

Para siswa berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan penutupan SPPG agar program MBG tetap berjalan dengan perbaikan kualitas layanan. Bagi sebagian pelajar, program tersebut bukan sekadar makanan tambahan, melainkan kebutuhan penting yang menunjang aktivitas belajar selama berada di sekolah.(ran)

Sumber: