”Kalau terpaksa masih tidak apa-apa, namun kalau bisa, mari kita mulai menghindarinya. Termasuk juga penggunaan dus atau kemasan sekali pakai, karena itu semua pada akhirnya tetap menimbulkan sampah baru,” ujarnya.
Pilar menambahkan, saat ini penyajian dalam setiap kegiatan sudah mulai menggunakan piring, bukan lagi kemasan sekali pakai. Program ini sudah berjalan di seluruh OPD dan juga kelurahan.
”Saya yakin pengurus bank sampah sudah sangat paham soal pemilahan sampah. Nah, sekarang kita naik level. Bukan hanya memilah sampah, tapi bagaimana menggerakkan ekonomi sirkular dengan biaya yang murah, bahkan hampir tanpa biaya, tapi bisa menghasilkan. Salah satunya melalui budidaya maggot,” tambahnya.
Pilar mengaku, secara pribadi saat ini dirinya masih di tahap pemilahan dan biopori. Dirinta belum sampai menjadi penggerak maggot tapi ke depan ingin belajar.
”Walaupun hari ini saya belum punya waktu yang cukup, insya allah nanti saya ingin khusus soal maggot, bahkan mungkin belajar secara privat bersama istri saya, supaya di lingkungan RW saya sendiri, sampah benar-benar bisa diberdayakan,” ungkapnya.
Bapak satu anak ini mengaku, yang menarik dari magot ini adalah pakannya gratis. Kita tidak perlu beli, pakannya berasal dari sampah rumah tangga kita sendiri. Yang tadinya sisa makanan kita buang ke biopori, sekarang bisa kita manfaatkan untuk maggot.
”Tinggal nanti kita belajar lebih dalam, bagaimana cara pengolahan pakannya, bagaimana supaya magotnya tumbuh optimal,” tuturnya.
Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah setelah maggot jadi, siapa yang akan membeli. Apakah untuk pakan ikan, lele, unggas, atau kebutuhan peternakan dan pertanian lainnya.
”Hasil dari budidaya maggot tidak bisa instan dan bisa 2-3 bulan kemudian baru bisa dirasakan. Kalau ini dimulai dari sekarang maka akan menjadi kebiasaan kita,” tutupnya. (bud)