Tahun ini, pemerintah daerah berkolaborasi dengan Yayasan 25 Januari dan Himpunan Sahabat Sejarah merencanakan kegiatan peringatan peristiwa Pertempuran Lengkong yang ke-80, digelar pada Maret 2026 nanti.”Biasanya mundur hari saja, pernah juga di bulan Maret juga, seperti tahun ini kami sudah berkoordinasi dengan pihak Pemkot Tangerang dan Tangerang Selatan, mengingat cuaca saat ini dan yang hadir banyak yang sepuh, belum lagi banyak kegiatan hari besar lainnya seperti Imlek kemudian menjelang puasa Ramadhan, kemudian lebaran. Jadi kemungkinan besar tahun ini kami diadakan di bulan Maret. Ini baru rencana ya,” katanya.
”Tetapi dari Danrem setempat Danrem 052 di sini menyelenggarakan tepat di tanggal 25 Januari. Nah Akademi Militer Magelang mengadakan Hari Bhakti Taruna di tanggal 24 Januari, seperti itu,” sambungnya.
Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong merupakan bagian upaya penguatan identitas bagi generasi muda khususnya di wilayah Tangerang. Peristiwa sejarah tersebut merupakan bukti nyata kontribusi pemuda Tangerang dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun ini juga Pemkot Tangerang merencanakan bakal merevitalisasi Museum Juang TMP Taruna. Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Pemkot Tangerang akan membangun sebuah ruang visual audio, mini teather di Museum Juang tersebut. Mini teather tersebut nantinya memutarkan film sejarah Peristiwa Pertempuran Lengkong bagi wisatawan yang datang mengunjungi Museum tersebut.”Museum ini punya Pemerintah Kota Tangerang, dan menjadi salah satu ikonnya Kota Tangerang. Nah kalau monumen di Tangsel dan menjadi ikonnya Tangsel. Kami hanya membantu supaya ada konsistensi acara terus bekerja sama supaya settle,” ujar Rani
Rani berharap, Museum Juang TMP Taruna kedepannya menjadi destinasi wisata favorit bagi masyarakat, terutama dari kalangan pelajar. Destinasi sejarah perjuangan para pahlawan ini patut dikenalkan kepada masyarakat luas, bahwa setiap semangat perjuangan memerdekakan bangsa ini tidak lepas dari peran generasi muda. ”Kita patut ingatkan terus supaya sejarah ini tidak tidak dilupakan. Kita kenalkan terus siapa Daan Mogot dan pahlawan muda yang lainnya biar orang tahu, bahwa Daan Mogot itu adalah dari Minahasa, kemudian Pak Bianto dari Jawa, Pak Sutopo dari Jawa, Pak Sokat dari Minang, kemudian ada almarhum Maringka itu dari Manado dan lainnya,” paparnya lagi.
”Tujuannya supaya membangkitkan semangat generasi muda bahwa berjuang itu nggak harus satu suku, kita rame-rame memperjuangkan seperti itu. Jadi saya mohon generasi muda menghidupkan prasasti-prasasti di manapun. Jangan hanya menjadi hiasan di ujung-ujung kota di pojok-pojok kota tapi jadikanlah prasasti itu hidup dan kenapa ada prasasti itu, masyarakat harus tahu,” pungkasnya.
Di Kota Tangerang Selatan, terdapat monumen Lengkong yang dibangun pemerintah daerah pada 1993 untuk memperingati Peristiwa Lengkong. Monumen itu berbentuk tembok berwarna gelap agak melengkung kedalam setinggi lebih dari 2 meter. Pada monumen itu terdapat tulisan berwarna keemasan, berisikan catatan sejarah singkat terjadinya Peristiwa Lengkong, serta nama-nama mereka yang gugur dalam peristiwa itu.(ziz)