Dikatakannya, super Flu juga bisa menular seperti flu pada umumnya, yang ditularkan melalui batuk, bersin, hingga cipratan ludah, yang terbawa udara lalu terhisap oleh orang disekitarnya.
"Penularannya sama persis dengan flu pada umumnya, hanya saja virus yang dihasilkannya berbeda. Sehingga, sulit untuk bisa dibedakan dan hanya bisa melalui pengecekan laboratorium baru bisa ketemu," ujarnya.
Pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, baik melalui Media Sosial (Medsos) maupun langsung ke lapangan."Kelompok rentan yang terkena Super Flu itu yakni, komorbid karena gejalanya bisa jadi berat seperti sulit untuk bernafas," ucapnya.
"Jangan lupa pakai alat pelindung diri seperti masker, jika berada di tempat kerumunan banyak orang, karena kita tidak tahu apakah diantaranya ada yang menderita Super Flu atau tidak. Lalu cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, karena virus bisa nempel di tangan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakam, super flu sebenarnya merupakan sebutan populer bagi varian virus influenza yang jauh lebih agresif. Secara ilmiah, virus ini diidentifikasi sebagai influenza A H3N2 subclade K.
Ia mengatakan, kasus infeksi varian A H3N2 Subclade K belum ada laporan tertulis. Baik dari fasilitas kesehatan Kabupaten Tangerang maupun dari Kemenkes. "Dari kemenkes belum ada laporan. Gak ada juga. Super flu bukan istilah untuk penyakit. Penyakitnya influenza," katanya, Selasa, (13/1).
Hendra mengatakan, gejala terinfeksi super Flu sama seperti virus influenza. Yakni, batuk, pilek dan sebagainya. Ia mengimbau agar masyarakat jangan terlalu khawatir akan virus varian ini.
"Sama seperti flu, panas batuk pilek. Super flu bukan nama penyakit. Rajin olahraga, istirahat, makan makanan yang sehat dan perbanyak minum air putih," tandasnya. (bud-agm-sep)