Menurut Bahrul, adanya beberapa warga di wilayahnya terjangkit penyakit DBD dinilai cukup mengkhawatirkan. Sebab, sejak bulan Desember 2025 musim hujan dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi cuaca yang ekstrem tersebut seharusnya dilakukan antisipasi dengan kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan secara rutin untuk mencegah munculnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD.
“Dalam kondisi musim hujan seperti ini, kerja bakti dan pembersihan lingkungan itu sangat penting. Itu langkah dasar untuk memutus rantai penyebaran DBD. Tapi faktanya, tidak ada sama sekali kegiatan pencegahan yang dijalankan oleh RT dan RW,” beber Bahrul.
Bahrul menilai, absennya upaya pencegahan tersebut berdampak langsung pada meningkatnya kasus DBD di lingkungan warga. Beberapa korban bahkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat kondisi yang cukup serius.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, lanjut Bahrul, pemuda setempat akhirnya mengambil inisiatif untuk bergerak. Dia bersama rekan-rekan pemuda melakukan komunikasi dan menyampaikan laporan langsung kepada pihak kelurahan pada Senin, 5 Januari 2026, agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.
“Kami sebagai pemuda tidak bisa diam. Kemarin kami langsung melapor ke lurah dan jajarannya supaya masalah ini bisa segera ditangani dan dikoordinasikan sampai ke RT dan RW,” pungkasnya. (ziz)