BJB

Tekan Pengangguran Lewat Program Pelatihan Vokasi

Tekan Pengangguran Lewat Program Pelatihan Vokasi

Gubernur Banten, Andra Soni meninjau pelatihan vokasi di salah satu SMK di Provinsi Banten, belum lama ini.--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemprov Banten berkolaborasi dengan dunia industri untuk terus memperkuat pendidikan vokasi dan menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

Langkah stra­tegis ini diwujudkan melalui pe­nguat­an kompetensi siswa SMK agar siap bersaing di du­nia kerja. Salah satunya lewat pe­luncuran proyek per­contohan sekolah vokasi ter­integrasi.

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komit­mennya untuk meng­opti­malkan potensi 8.924 in­dustri skala kecil hingga besar yang beroperasi di Ban­ten agar dapat menyerap te­naga kerja lokal secara maksimal.

"Kita terus berkolaborasi agar dapat menyerap tenaga kerja lokal," katanya, Rabu (19/8).

Ia menjelaskan beberapa langkah strategis yang dilaku­kan: pertama, membuka akses pelatihan kerja secara luas di UPTD untuk warga usia produktif dengan menggan­deng mitra industri.

"Kemudian memaksimalkan sistem informasi lowongan kerja melalui platform Siloker, penyelenggaraan Job Fair, dan perluasan kesempatan kerja," ujarnya.

Lebih lanjut, bekerja sama dengan Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 untuk me­ran­cang pendidikan vokasi berbasis kebutuhan lapangan kerja.

Saat ini, Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 tengah melangsungkan uji kelayakan (feasibility study) untuk pem­bangunan dua SMK model di Kawasan Industri Modern Cikande (Kabupaten Serang) dan Kawasan Industri Sawah Luhur (Kota Serang). Kajian tersebut mencakup aspek topografi, jumlah anak usia sekolah, ketersediaan SMK sekitar, hingga kondisi eko­nomi masyarakat.

"Pendidikan vokasi menjadi salah satu upaya untuk men­cetak SDM yang unggul serta menekan TPT di Provinsi Ban­ten," ungkapnya.

Diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026, TPT di Provinsi Banten tercatat berada di angka 6,48 persen, turun 0,11 poin dibandingkan Februari 2026. Jumlah penduduk be­kerja naik 57 ribu orang menjadi 5,88 juta orang. Dari total 9,62 juta penduduk usia kerja, sebanyak 6,29 juta orang merupakan angkatan kerja, sementara 3,33 juta orang sisanya bukan angkatan kerja.

Sebelumnya, Anggota Komisi V DPRD Banten, Yeremia Mendrofa menanggapi terkait dengan masih tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di Provinsi Banten. Menu­rutnya hal ini menjadi per­soalan pekerjaan rumah besar bagi Pemprov Banten yang harus diselesaikan.

Yeremia mengatakan ber­dasarkan data BPS, pada Mei 2026 masih terdapat sekitar 408 ribu warga Banten yang menganggur. Di saat yang sama, pekerja tidak penuh meningkat menjadi 22,76 per­sen dan pekerja sektor informal mencapai 51,01 per­sen atau sekitar 3 juta orang. 

"Ini menunjukkan bahwa persoalan Banten bukan se­kadar kurangnya pekerjaan, tetapi juga kurangnya peker­jaan yang layak, produktif, stabil dan memberikan peng­hasilan yang cukup," katanya.

Bahkan, menurut Yeremia ada fenomena yang perlu menjadi perhatian serius, yaitu meningkatnya pengang­guran pada kelompok berpen­didikan. TPT lulusan SMA mencapai 9,99 persen, SMK 9,56 persen, bahkan lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 men­capai 9,16 persen.

Sumber: