BJB

Guru Jangan Malas-malasan Cegah Perundungan

Guru Jangan Malas-malasan Cegah Perundungan

Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi saat diwawancarai wartawan, beberapa hari lalu. (AGUNG GUMELAR/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang menekankan agar guru tidak bermalas-malasan karena kini sudah waktunya masuk sekolah.

Kemudian perlu ditingkatkan pengawasan ke para murid untuk melakukan pencegahan terhadap perilaku perundungan (bullying) di kelas maupun luar jam pelajaran dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi mengatakan, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sudah dilaksanakan, dan diharapkan setelahnya para guru dapat terus mengawasi anak didiknya supaya tidak ada kasus perundungan. 

"Perlu ditingkatkan pengawasan, tidak hanya saat jam pelajaran berlangsung, tetapi ketika di luar jam pelajaran juga perlu diawasi, supaya tidak ada bullying di ling­kungan pendidikan," katanya saat diwawancarai wartawan beberapa hari lalu, Minggu (19/7).

Aber mengatakan, untuk men­cegah terjadinya perundungan, pihaknya akan menurunkan tim pemantau mulai dari panitia se­kolah, kepala bidang, hingga kepala dinas sendiri. 

Tidak hanya itu dirinya meminta masyarakat dan orang tua, untuk ikut serta dalam mengawasi anak-anaknya supaya tidak melakukan tindakan perundungan.

"Karena tindakan bullying akan merugikan baik untuk siswanya maupun sekolahnya, tapi kalau ditemukan pelanggaran akan di­berikan peringatan ke kepala se­kolah selama tiga hari hingga satu minggu. Bahkan bisa berujung tindakan tegas, apabila terus menerus ada tindakan bullying di sekolahnya," ujarnya.

Dikatakan Aber, para guru di­larang untuk bermalas-malasan karena sudah waktunya masuk sekolah. 

"Sudah waktunya masuk sekolah, tidak ada istilah waktu santai, guru-guru tidak ada yang libur, tidak boleh, tingkatkan pengawasan terhadap anak didiknya," ucapnya.

Aber mengaku, selama kegiatan MPLS tahun ini, yang berlangsung selama sepekan dipastikannya tidak ada perundungan, terlebih pelaksanaannya harus berjalan aman, humanis, serta berorientasi pada pendidikan karakter. 

Pihaknya juga melarang keras adanya kegiatan MPLS yang ber­sifat fisik dan berpotensi menyiksa peserta didik.

"Alhamdulillah berjalan baik se­muanya tidak ada laporan bul­lying selama MPLS, saya juga pan­tau langsung di sekolah-seko­lah, baik di perkotaan maupun di kam­pung-kampung. Kemudian, saya juga mengapresiasi para ayah yang me­ngantar anaknya ke se­kolah, ini menjadi kebanggaan bagi anak dan lembaga," tuturnya. (agm)

Sumber: