Kasus TBC di Kabupaten Tangerang Tembus 5.101
DIWAWANCARAI: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tirmidzi saat diwawancarai beberapa waktu lalu.(Dani Mukarom/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat 5.101 kasus tuberkulosis (TBC) hingga Juni 2026. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Tangerang, pada sepanjang 2025 jumlah kasus TBC yang berhasil ditemukan mencapai 11.881 pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmidzi, mengatakan pihaknya sedang gencar menemukan penderita sedini mungkin agar segera mendapatkan pengobatan.”TBC masih menjadi masalah kesehatan yang harus ditangani bersama. Saat ini kami terus melakukan pencarian kasus secara aktif agar penderita dapat ditemukan sedini mungkin, segera mendapatkan pengobatan, sekaligus dilakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien,” kata Hendra saat diwawancarai Ta Ekspres, Kamis (16/7).
Ia menjelaskan, sepanjang 2025, kecamatan dengan jumlah penemuan kasus TBC terbanyak berada di Mauk, Jayanti, dan Kresek. Wilayah-wilayah tersebut menjadi fokus penguatan surveilans, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan untuk memutus rantai penularan.
Menurut Hendra, TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Karena penularannya melalui percikan droplet di udara, kata Hendra, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama jika tinggal serumah dengan penderita. ”Penularan TBC terjadi melalui udara atau droplet dari penderita. Risiko tertinggi dialami oleh mereka yang memiliki kontak serumah atau kontak erat dalam waktu lama dengan pasien TBC,” ujarnya.
Selain kontak erat, sejumlah faktor lain yang meningkatkan risiko penularan di antaranya kondisi ruangan yang tertutup dengan ventilasi buruk, kepadatan hunian, daya tahan tubuh yang rendah, hingga kondisi gizi yang kurang baik.
Hendra menjelaskan, untuk mengendalikan penyakit tersebut, Dinkes Kabupaten Tangerang menjalankan berbagai strategi, mulai dari penemuan kasus melalui skrining dan investigasi kontak, memastikan diagnosis dan pengobatan sesuai standar nasional.
Tak hanya itu, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga terus digencarkan agar warga memahami gejala TBC, tidak takut memeriksakan diri, serta disiplin menjalani pengobatan hingga tuntas.”Kami mengajak masyarakat yang mengalami batuk lebih dari dua minggu atau memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularannya kepada orang lain,” katanya.
Sementara itu, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid mengatakan, pihaknya saat ini tengah fokus pada upaya eliminasi penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC). Ia meminta Dinkes Kabupaten Tangerang untuk menyajikan data pelaporan kasus TBC menjadi angka prevalensi riil per 100 ribu penduduk guna mempermudah pemetaan dan penanganan wilayah oleh para camat. ”Melalui pengerahan lintas sektor hingga tingkat RT, angka kasus TBC di desa tersebut berhasil ditekan dari yang semula 8 kasus pada tahun 2025, kini tersisa 3 kasus saja dan bersiap menuju status eliminasi total,” katanya.(dan)
Sumber:

