Hoaks dan Rendahnya Kepercayaan Hambat Imunisasi
Ketua Tim Peneliti FKUI, Dr. Ahmad Fuady menyampaikan materi dalam Participatory Workshop: Komitmen Daerah dan Sinergi Multisektoral dalam Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Dasar Anak yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Hote--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Penyebaran hoaks, anggapan vaksin tidak halal, hingga rendahnya kepercayaan masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan cakupan imunisasi dasar anak di Kota Serang. Dampaknya, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Serang hingga kini baru mencapai sekitar 60 persen, masih di bawah target nasional yang ditetapkan minimal 80 persen.
Temuan tersebut mengemuka dalam Participatory Workshop: Komitmen Daerah dan Sinergi Multisektoral dalam Upaya Peningkatan Cakupan Imunisasi Dasar Anak yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Hotel Aston Serang, Senin (6/7).
Ketua Tim Peneliti FKUI, Dr. Ahmad Fuady, mengatakan penelitian yang dilakukan sejak 2025 di Aceh, Maluku, dan Banten itu menunjukkan masih banyak anak yang belum memperoleh imunisasi dasar lengkap.
Di Provinsi Banten, penelitian difokuskan di Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang dengan melibatkan 346 responden yang terdiri atas pengasuh anak, tenaga kesehatan, kepala puskesmas, hingga tokoh masyarakat.
Menurut Fuady, rendahnya cakupan imunisasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang berkembang di tengah masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan masih tingginya kelompok zero dose, yakni anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi DTP pertama.
"Kelompok zero dose masih cukup tinggi. Ini menunjukkan masih ada persoalan dalam pemanfaatan layanan imunisasi," ujarnya.
Ia menjelaskan, kekhawatiran terhadap efek samping vaksin menjadi alasan yang paling sering disampaikan para orang tua. Pengalaman anak mengalami demam setelah imunisasi membuat sebagian orang tua enggan melanjutkan imunisasi berikutnya.
Selain itu, maraknya hoaks pascapandemi Covid-19 turut memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Bahkan, isu mengenai kehalalan vaksin masih berkembang di sebagian masyarakat, meski banyak yang tidak mengetahui dasar informasi tersebut.
"Ketika ditanya vaksin mana yang dianggap haram, sebenarnya mereka juga tidak tahu. Persepsi itu muncul karena informasi yang keliru," katanya.
Penelitian juga menemukan sebagian orang tua khawatir jika anak harus menerima lebih dari satu suntikan dalam satu kunjungan. Kekhawatiran tersebut membuat mereka memilih menghentikan imunisasi ketika jadwal anak terlambat.
Fuady berharap berbagai upaya kolaboratif dapat meningkatkan cakupan imunisasi di Kota Serang dari sekitar 60 persen menjadi minimal 80 persen, sehingga lebih banyak anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Serang Ahmad Hasanudin mengakui rendahnya kepercayaan masyarakat memang masih menjadi tantangan terbesar dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Padahal, dari sisi pelayanan, pemerintah daerah telah menyiapkan tenaga kesehatan dan sarana pendukung sesuai standar.
Ia menjelaskan, seluruh petugas telah mendapatkan pelatihan pengelolaan rantai dingin (cold chain) untuk memastikan kualitas vaksin tetap terjaga mulai dari penyimpanan hingga didistribusikan kepada masyarakat.
"SDM kami sudah dibekali pelatihan manajemen rantai vaksin, dan fasilitas penyimpanan seperti cold room di gudang farmasi juga sudah sesuai standar," ujarnya.
Sumber:

