BJB FEBRUARI 2026

Suspek Campak di Banten Capai 2.000 Kasus

Suspek Campak di Banten Capai 2.000 Kasus

Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti, saat diwawancarai belum lama ini. (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten mencatat, terdapat lebih dari 2.000 kasus suspek campak di Provinsi Banten terhitung sejak Januari hingga Maret 2026. Tingginya angka kasus suspek ini membuat pemerintah  bergerak cepat dalam mengatasi masalah tersebut.

Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, kasus suspek campak di Banten saat ini cukup tinggi, dalam triwulan pertama di 2026 kasus suspek campak lebih dari 2.000 yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Banten.

"Saat ini kasusnya tengah tinggi jadi harus waspada," katanya, belum lama ini.

Penularan campak harus terus diwaspadai, bahkan berdasarkan hasil surveilans aktif yang dilakukan Dinkes Banten, sepanjang tahun 2025 ditemukan lebih dari 6.000 kasus suspek campak.

"Dari sekitar 6.000 lebih suspek yang kita temukan tahun 2025, sekitar 510 kasus dinyatakan positif campak," ujarnya.

Apalagi dalam momen Lebaran, penularan penyakit memiliki potensi yang tinggi termasuk campak yang mudah menyebar terutama kepada anak kecil.

"Anak-anak, terutama bayi yang baru lahir, sebaiknya tidak terlalu banyak disentuh oleh anggota keluarga atau orang lain saat momen Lebaran," terangnya.

Ia menjelaskan, penyebaran campak bisa terjadi lantaran interaksi yang tinggi, apalagi dalam momen silaturahmi Lebaran yang memungkinkan adanya momen kumpul bersama keluarga.

"Makanya tolong pastikan tangan dalam kondisi bersih. Hand sanitizer sebaiknya selalu dibawa selama perjalanan," ujarnya.

Untuk menekan penyebaran penyakit, kata Ati pihaknya telah meningkatkan cakupan imunisasi campak melalui program MR1, MR2, dan MR3. Upaya tersebut juga dilakukan melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Selain itu, di beberapa daerah seperti Kabupaten Pandeglang dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Tak hanya itu, Ati juga menyiapkan vaksin di berbagai posko kesehatan dalam rangka mudik Lebaran sebagai langkah antisipasi potensi penyebaran penyakit. Diketahui, Dinkes Banten menyiapkan 94 posko kesehatan lapangan. Selain itu ada 254 puskesmas, 135 rumah sakit, dan 45 ambulans untuk layanan PSC 119.

"Jadi masyarakat bisa datang ke posko-posko yang sudah kami sediakan apabila ingin mendapatkan vaksin dan layanan kesehatan lainnya," paparnya.

Sementara itu, anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa, mengatakan bahwa tingginya kasus suspek campak di Banten harus menjadi peringatan serius untuk segera ditekan.

"Di hari raya Idul Fitri ini mobilitas warga dipastikan meningkat pesat. Makanya menurut saya ini adalah masa krusial di mana potensi penularan penyakit menular seperti campak juga ikut naik," katanya.

Meski begitu, ia menekankan bahwa penanganan harus dilakukan secara bersama, bukan hanya pemerintah melainkan juga masyarakat aktif terlibat dengan memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap.

"Campak merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu, kami mengajak para orang tua untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap di fasilitas kesehatan terdekat," tegasnya.

Yeremia juga mendorong penguatan edukasi kesehatan, peningkatan surveilans penyakit, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan agar potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah. (mam)

Sumber: