BJB NOVEMBER 2025

Pengawasan DBD Diperketat di Musim Hujan

Pengawasan DBD Diperketat di Musim Hujan

Proses Fogging di sejumlah titik permukiman warga Kecamatan Kasemen, Jumat (9/1). (ALDI ALPIAN INDRATANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemerintah Kota Serang melalui Dinas Kesehatan melakukan pengasapan (fogging) di sejumlah titik permukiman warga Kecamatan Kasemen, menyusul laporan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sempat mengkhawatirkan masyarakat, Jumat (9/1). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menekan penyebaran nyamuk Aedes aegypti pascabanjir yang sempat merendam wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, petugas menyisir gang-gang permukiman warga dengan mesin fogging. Warga tampak antusias dan ikut mengamankan lingkungan sekitar selama proses pengasapan berlangsung.

Salah satu warga Kampung Jerakah, Kelurahan Warung Jaud, Iroh, mengatakan kasus demam yang menyerang warga terjadi secara cepat dalam dua pekan terakhir. Ia menyebutkan, awalnya banyak korban mengira hanya demam biasa.

“Awalnya dikira panas biasa. Tapi setelah tiga hari tidak turun, malah makin tinggi. Setelah dibawa ke rumah sakit, baru ketahuan kalau itu DBD,” ujar Iroh.

Sebelumnya, warga melaporkan hampir 10 orang mengalami gejala demam dan sebagian harus menjalani perawatan di rumah sakit dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan potensi wabah DBD pascagenangan banjir yang masih tersisa di sejumlah titik.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Serang, dr Tedja Ratri, menjelaskan bahwa pihak puskesmas melalui penanggung jawab (PJ) program dan promosi kesehatan (Promkes) telah melakukan surveilans epidemiologi menindaklanjuti laporan warga.

“Dari hasil penelusuran, kami mendapatkan empat kasus kesakitan yang sudah dirawat di rumah sakit. Dua kasus merupakan febris non-DBD, satu kasus diare, dan satu kasus lainnya masih menunggu hasil diagnosis akhir,” kata Tedja.

Ia menegaskan, penanganan kasus DBD dilakukan secara komprehensif, tidak hanya pada pasien tetapi juga melalui intervensi terhadap lingkungan dan keluarga. Penanganan pasien disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit.

“Penanganan dimulai dari istirahat cukup, pemantauan kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi, konsumsi makanan bergizi, pemantauan tanda bahaya seperti perdarahan dan penurunan kesadaran, pemeriksaan trombosit, hingga pemberian infus dan pemantauan intensif sesuai kondisi pasien,” jelasnya.

Tedja menambahkan, apabila ditemukan kasus positif DBD, maka langkah awal yang dilakukan adalah Penyelidikan Epidemiologi (PE). Hal ini bertujuan memastikan keberadaan jentik nyamuk di sekitar lokasi kasus.

“PE dilakukan untuk memastikan ada tidaknya tempat perindukan nyamuk. Bila Angka Bebas Jentik (ABJ) di bawah 95 persen, maka fogging akan dilakukan sebagai langkah pengendalian,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa fogging bukan satu-satunya solusi. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetap menjadi kunci utama pencegahan DBD.

“PHBS harus dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Mulai dari menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan,” tegas Tedja.

Pemkot Serang mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gejala DBD, terutama di musim hujan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun. (ald)

Sumber: