Empat Minggu, 2.886 Warga Terserang ISPA
DIWAWANCARAI: Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni saat diwawancarai oleh Tangerang Ekspres, belum lama ini.(Dhuyuf/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mencatat sebanyak 2.886 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu empat minggu terakhir. Penyakit tersebut menjadi kasus terbanyak yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan selama musim kemarau dibandingkan penyakit lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, mengatakan berdasarkan pemantauan tren mingguan, kondisi penyakit di Kota Tangerang secara umum masih relatif terkendali. Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah penyakit menunjukkan pola fluktuatif.” Beberapa penyakit menunjukkan pola yang fluktuatif, terutama penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan, pencernaan, dan penyakit yang berbasis lingkungan,” ujarnya, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan, ISPA menjadi penyakit yang paling dominan dibandingkan penyakit lainnya. Selain itu, Dinkes juga masih menemukan kasus diare akut, suspek demam tifoid (tifus), suspek demam dengue atau DBD, pneumonia, hingga influenza-like illness (ILI), yakni penyakit dengan gejala menyerupai influenza.”Kasus ISPA masih menjadi yang paling dominan dibandingkan penyakit lainnya,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, kata dia, Dinkes Kota Tangerang telah mengoptimalkan sistem kewaspadaan dini melalui pemantauan rutin di seluruh Puskesmas. Karena itu, ia meminta kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala berat, seperti ISPA berat, pneumonia, dehidrasi akibat diare, hingga demam tinggi yang mengarah pada DBD.
Dikatakannya, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dipastikan memiliki ketersediaan obat-obatan dasar, cairan rehidrasi seperti oralit, obat simptomatik, serta sistem rujukan apabila pasien memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.”Rumah sakit kita siapkan untuk menangani kasus yang membutuhkan perawatan lebih lanjut, terutama pneumonia, DBD dengan tanda bahaya, diare dengan dehidrasi sedang sampai berat, dan tifus dengan komplikasi,” jelasnya.
Selain itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan selama musim kemarau, mulai dari memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca buruk hingga menggunakan masker ketika berada di lingkungan berdebu maupun berasap.
Karena itu, ia meminta masyarakat agar menjaga kebersihan makanan dan minuman, mencuci tangan menggunakan sabun, tidak membeli makanan sembarangan, serta tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus karena DBD dan chikungunya masih berpotensi muncul meski sedang musim kemarau.
Lebih lanjut, dr. Dini menegaskan, upaya menekan angka kasus penyakit menular tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Menurutnya, peran masyarakat menjadi faktor utama dalam mencegah penyebaran penyakit. Ia juga mengimbau masyarakat segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam tinggi yang tidak kunjung turun, batuk berat, sesak napas, muntah, tubuh lemas, maupun tanda-tanda dehidrasi agar dapat segera memperoleh penanganan medis.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang, Sachrudin, mengatakan semangat pelayanan dengan pola jemput bola menjadi budaya kerja seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang. Menurutnya, ASN yang aktif turun ke lapangan, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, dan sigap menghadirkan solusi akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah daerah.
Ia juga menegaskan, pendekatan pelayanan yang bersifat proaktif dapat memungkinkan pemerintah lebih cepat mengenali kebutuhan masyarakat serta mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Untuk di bidang kesehatan, ia menilai pelayanan tidak seharusnya hanya berfokus pada penanganan masyarakat yang telah sakit. Upaya pencegahan melalui edukasi, deteksi dini, serta pemeriksaan kesehatan perlu terus diperkuat agar derajat kesehatan masyarakat semakin meningkat.”Kesehatan bukan persoalan pelayanan yang baik ketika masyarakat sakit, tapi bagaimana caranya masyarakat agar tidak sakit. Yang sakit tidak berkembang, menjalar. Jadi dijemput,” pungkasnya. (duy)
Sumber:

