Tangsel Siap Jadi Kota Percontohan Molis
Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsam (tengah) didampingi Publik Relation and Event Executive AISMOLI Riniwaty Sinaga foto bersama seusai menerima kunjungan dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) di Balai Kota Tangsel, Rabu (11/2). -Tri Budi/Tangerang Ekspres -
Menurutnya, meski industri atau pabrik motor listrik belum ada di Kota Tangsel, namun showroom motor listrik sudah cukup banyak berkembang. Pilar menegaskan hal itu bukan menjadi hambatan, karena tujuan utamanya adalah mendorong kota menjadi lebih ramah lingkungan.
“Kalau industrinya memang belum ada di Tangsel. Tapi showroom sudah banyak. Bagi kami itu tidak menjadi masalah, karena tujuannya adalah bagaimana Tangsel menjadi kota yang semakin ramah lingkungan,” tuturnya.
Ia juga menyebut Pemkot Tangsel saat ini tengah mendorong penanganan sampah berbasis teknologi, sehingga transformasi transportasi menuju kendaraan listrik menjadi langkah yang selaras. Terkait kendaraan dinas, Pilar membuka peluang Pemkot Tangsel mulai mengarahkan penggunaan kendaraan listrik melalui kebijakan atau surat edaran.
“Ke depan bisa melalui imbauan atau surat edaran dari Pak Wali Kota. Kalau ada pengadaan kendaraan operasional baru, misalnya kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah, itu juga bisa diarahkan menggunakan kendaraan listrik. Yang penting harus dimulai,” tegasnya.
Pilar mengakui, saat ini penggunaan kendaraan listrik di lingkungan Pemkot Tangsel masih sangat kecil. Namun ia menekankan langkah awal harus segera dilakukan. “Untuk data persentasenya saya belum mendapat informasi detail, tapi saya kira masih sangat kecil. Namun ini harus dimulai. Saya pribadi juga sudah menggunakan motor listrik untuk kebutuhan kunjungan-kunjungan,” ucapnya.
Ia menambahkan, Pemkot Tangsel juga terbuka untuk melakukan uji coba motor listrik sebagai kendaraan operasional pemerintah. “Bisa saja. Nanti akan kita diskusikan lebih lanjut bersama AISMOLI, termasuk opsi uji coba beberapa produk motor listrik yang ada,” tutupnya.
Sementara itu, Publik Relation and Event Executive AISMOLI Riniwaty Sinaga mengatakan, transformasi menuju kendaraan listrik merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. ”Yang jelas, perpindahan masyarakat ke kendaraan listrik harus terus kita dorong, salah satunya melalui inovasi pada business model,” ujarnya.
Riniwaty menambahkan, business model ini tidak selalu harus seperti pola konvensional, misalnya membeli langsung di depan, tetapi bisa dikembangkan melalui berbagai skema lain. Misalnya sistem sewa harian, pay per use, atau model layanan seperti berlangganan, sehingga hambatan masyarakat untuk beralih bisa berkurang.
Karena salah satu tantangan terbesar masyarakat untuk pindah ke kendaraan listrik adalah aksesibilitas dan kemudahan.
Hal ini juga menjadi perhatian menarik bagi kepala daerah, bagaimana kita bisa membangun brand dan kepercayaan masyarakat bahwa kendaraan listrik, termasuk ekosistemnya, sama handalnya dengan kendaraan konvensional.
”Kami bahkan berencana mengelaborasi hal tersebut dengan membuat model grafis atau model edukasi yang lebih sederhana agar masyarakat bisa memahami bahwa teknologi kendaraan listrik tidak kalah andal,” tambahnya.
Riniwaty mengaku, pihakbta pernah membuat kegiatan seperti event E-race di Sentul pada tahun 2024. Itu merupakan salah satu cara kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa kendaraan listrik tetap handal dan tidak ada bedanya dibandingkan kendaraan konvensional.
”Memang dua tahun yang lalu sempat ada sedikit perbedaan, terutama dari sisi performa kecepatan dalam beberapa aspek. Namun kami yakin, setelah dua tahun pengembangan dan pengujian, kendaraan listrik semakin matang dan siap digunakan secara luas,” jelasnya.
Menurutnya, pada prinsipnya inovasi kendaraan listrik jauh lebih cepat berkembang, mengingat sistem elektronik lebih memungkinkan untuk peningkatan teknologi dibandingkan mesin konvensional.
Namun, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat umum bisa menerima kendaraan listrik dengan mudah. Untuk itu, dukungan ekosistem harus dibangun. Misalnya ketika kendaraan mengalami kerusakan ringan, masyarakat tidak boleh bingung harus pergi ke mana.
Sumber:

