PMII Soroti Ketimpangan Buruh dan Pendidikan
PKC PMII Banten menggelar aksi demonstrasi di kawasan Lampu Merah Ciceri, Kota Serang, Sabtu (2/5). (ALDI ALPIAN INDRA/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Banten menggelar aksi demonstrasi di kawasan Lampu Merah Ciceri, Kota Serang, Sabtu (2/5). Aksi tersebut menjadi bagian dari refleksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Dalam aksinya, massa PMII Banten menyoroti berbagai persoalan yang masih membelit sektor ketenagakerjaan dan pendidikan di Provinsi Banten. Sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, Banten dinilai belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para buruh.
Koordinator aksi, Dedi Setiawan, mengatakan bahwa hingga saat ini masih banyak buruh yang menghadapi kondisi kerja tidak menentu, sistem kontrak berkepanjangan, serta minimnya jaminan sosial.
“Masalah upah layak, kepastian kerja, dan perlindungan buruh masih menjadi persoalan utama. Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, PMII Banten juga menyoroti kondisi pendidikan yang dinilai belum merata. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih terlihat, baik dari segi fasilitas, tenaga pendidik, maupun akses melanjutkan pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan juga dinilai menjadi hambatan bagi masyarakat, khususnya dari kalangan buruh dan ekonomi menengah ke bawah.
“Pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan. Namun jika tidak berpihak pada rakyat kecil, justru akan memperkuat ketimpangan,” kata Dedi.
Dalam tuntutannya, PMII Banten mendesak pemerintah untuk menghapus praktik pungutan liar dalam rekrutmen tenaga kerja, menegakkan pembayaran upah sesuai upah minimum kabupaten/kota (UMK), serta menghapus sistem outsourcing yang dinilai merugikan buruh.
Di sektor pendidikan, mereka meminta pemerintah menuntaskan angka putus sekolah, memastikan distribusi beasiswa tepat sasaran dan transparan, serta meningkatkan kesejahteraan guru honorer melalui pengangkatan menjadi aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) tanpa diskriminasi.
Selain itu, PMII juga menyoroti persoalan infrastruktur dan lingkungan di wilayah industri, seperti penertiban truk over dimension over load (ODOL), percepatan perbaikan Jalan Lingkar Selatan (JLS), serta penindakan terhadap aktivitas tambang ilegal dan industri yang merusak lingkungan.
Isu kesehatan turut menjadi perhatian, terutama meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat polusi industri. PMII mendesak agar perusahaan bertanggung jawab atas dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Ketua PKC PMII Banten, Winah Setiawati, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Aksi ini merupakan bentuk keberpihakan kami kepada rakyat. Kami akan terus mengawal kebijakan agar berpihak pada masyarakat,” tegasnya. (ald)
Sumber:
