DPR Tekankan Adab dan Keamanan Data di Era AI
Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf memberikan sambutan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Etika, Keamanan Data dan Privasi Dalam Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial, Kota Serang, Minggu (5/4). (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf menekankan masyarakat untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang pasif, melainkan menjadi pengguna yang cerdas dan beretika. Sebab di tengah kemudahan instan yang ditawarkan, terdapat tantangan moral dan risiko keamanan data.
Furtasan mengatakan, transformasi digital yang sehat wajib berdiri di atas tiga pilar utama, mulai dari etika, yakni penggunaan teknologi untuk kebaikan bersama tanpa merugikan pihak lain.
"Kemudian keamanan data, atau perlindungan terhadap informasi sensitif dari ancaman siber. Terakhir privasi, kesadaran akan batasan mana data yang bersifat publik dan mana yang pribadi," katanya dalam sambutannya di kegiatan Bimbingan Teknis Etika, Keamanan Data dan Privasi Dalam Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial, Kota Serang, Minggu (5/4).
Dalam kesempatan itu, Komisi X DPR RI melakukan kolaborasi strategis bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hal ini juga sebagai langkah bahwa kemajuan teknologi tanpa fondasi etika adalah sebuah kerawanan.
Pria yang akrab dipanggil Fay menyoroti bagaimana AI telah merombak wajah pendidikan dan kesehatan. Jika dulu mencari referensi membutuhkan waktu lama, kini AI bisa menyajikannya dalam hitungan detik. Namun, kecepatan ini jangan sampai mengabaikan aturan.
"Pemanfaatan teknologi tidak boleh dilakukan secara serampangan. AI harus digunakan untuk kebaikan bersama, bukan justru untuk merugikan pihak lain. Semua ada aturannya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan tentang bahaya laten kebocoran data yang kian mengintai seiring bertambahnya volume informasi digital. Fay menekankan bahwa perilaku sembarangan menyebarkan data orang lain dapat berujung pada konsekuensi hukum yang serius.
"Data tambah besar, kebocoran juga tambah tinggi. Jadi tidak bisa lagi kita seenaknya mengambil data orang, lalu misalnya kita share-share gitu ya. Sudah ada aturannya semuanya. Apalagi data kita ini kadang-kadang tidak jelas mana data yang pribadi, mana yang data publik," tegasnya.
Sementara itu, pemateri dalam kegiatan, Hanafi menekankan terkait dengan pentingnya memposisikan AI sebagai instrumen guna mendukung kinerja dalam pekerjaan dan kegiatan setiap hari.
Ia juga menambahkan bahwa dalam penggunaan teknologi termasuk AI harus digunakan secara bijak.
"Jadikan AI itu sebagai tools (alat). Kita menggunakan AI untuk menunjang performa kita dalam bekerja sehari-hari, menunjang aktivitas sehari-hari," katanya. (mam)
Sumber:

