TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Aktivitas dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda yang terjadi sejak pekan lalu sangat berdampak terhadap perhotelan di kawasan Anyer dan Cinangka.
Hal itu dibuktikan dengan adanya pembatalan dan penundaan reservasi hotel yang dilakukan tamu yang hendak menginap. Hal itu akibat aktivitas GAK yang terus menerus menimbulkan erupsi dan ada abu vulkanik yang dikeluarkannya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Yurlena Rahman mengatakan, adanya erupsi GAK dan sebaran abu vulkanik yang terjadi pekan lalu berdampak terhadap sebagian aktivitas usaha pariwisata di kawasan wisata pantai Anyer dan Cinangka, terutama pada reservasi, pembatalan maupun penundaan perjalanan wisatawan.
Namun pihaknya tidak bisa menyebutkan angka pasti terkait berapa banyak tamu hotel yang telah melakukan reservasi, pembatalan maupun penundaan perjalanan wisatawan, sebab masih dilakukan pendataan.
"Berdasarkan laporan yang ada bahwa benar terdapat pembatalan dan penundaan reservasi, yang oleh tamu akibat situasi Gunung Anak Krakatau. Namun, baru sebatas laporan dan belum merepresentasikan seluruh pembatalan maupun penundaan reservasi di kawasan Anyer Cinangka. Kami masih melakukan konsolidasi data bersama pelaku usaha pariwisata," katanya kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Minggu (13/9).
Yurlena mengatakan, kondisi antar hotel ini tidak seragam dan dampak tersebut tidak dapat disamaratakan sebagai kondisi seluruh hotel di kawasan wisata pantai Anyer dan Cinangka.
Meski demikian operasional hotel dan aktivitas pariwisata tetap berjalan dengan memperhatikan perkembangan kondisi serta informasi dan arahan dari pihak yang berwenang berkaitan dengan kondisi GAK.
"Dari adanya pembatalan, penundaan reservasi, serta perubahan pola perjalanan wisatawan tentu berdampak pada untung-ruginya pelaku hotel. Tapi, belum bisa disebutkan jumlah hotel yang alami kerugian," ujarnya.
Yurlena juga tidak bisa menyampaikan berapa besaran okupansi hotel pasca erupsi GAK yang terjadi pekan lalu.
Sebab pihaknya masih melakukan pendataan dan konsolidasi agar informasi yang disampaikannya kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.
"Tingkat okupansi selama periode tanggal 4 sampai tanggal 13 September menunjukkan variasi antar properti. Data tersebut masih dalam proses konsolidasi, dan belum dapat dianggap sebagai angka yang merepresentasikan seluruh hotel di kawasan Anyer dan Cinangka," ucapnya.
Yurlena mengimbau masyarakat sekitar maupun wisatawan untuk tetap tenang, tidak mengabaikan kewaspadaan, dan menjadikan informasi resmi sebagai rujukan utama.
Kekhawatiran merupakan hal yang wajar ketika terjadi aktivitas gunung api, namun diminta untuk tidak tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan potongan video, judul pemberitaan, maupun informasi yang belum terverifikasi di media sosial.
"Masyarakat dapat mengikuti perkembangan dan arahan dari PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BPBD dan pemerintah daerah, serta mengikuti setiap ketentuan keselamatan yang ditetapkan oleh otoritas terkait," tuturnya.
Sementara itu ketika dimintai konfirmasi, Kepala Disporapar Kabupaten Serang Anas Dwi Satya Prasadya belum memberikan balasan melalui WhatsApp. (agm)