BJB

Fraksi PDIP Desak Pemprov Banten Perkuat Kesiapsiagaan dan Anggaran

Fraksi PDIP Desak Pemprov Banten Perkuat Kesiapsiagaan dan Anggaran

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Banten meninjau kantor BPBD Provinsi Banten, belum lama ini.--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Banten mendesak Pem­prov Banten untuk mening­katkan kesiapsiagaan hingga penambahan anggaran untuk perlengkapan di Badan Pe­nanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD).

Hal itu diung­kapkan Anggota Fraksi PDIP DPRD Banten, Yeremia Men­drofa usai mela­kukan kunju­ngan lapangan dan monitoring bersama se­luruh anggota ke Kantor BPBD Provinsi Banten. Kunjungan dilakukan untuk memantau langsung kesiapan daerah dalam menghadapi ancaman bencana alam seka­ligus men­jalankan fungsi pengawasan legislatif.

Yeremia mengatakan, Pro­vinsi Banten memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai potensi bencana, mulai dari erupsi Gunung Anak Krakatau, gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan akibat fenomena El Nino, ke­bakaran hutan dan lahan, hingga cuaca ekstrem. 

Maka dari itu, ia menegaskan pentingnya pergeseran pola penanganan bencana dari yang semula reaktif menjadi preventif dan terukur.

"Dalam konteks mening­katnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi dampak abu vulkanik, kesiapsiagaan tidak boleh hanya bersifat reaktif setelah bencana terjadi. Pemerintah harus memastikan seluruh sistem penang­gu­langan bencana bekerja secara cepat, terkoordinasi, terukur, dan berorientasi pada kese­lamatan masyarakat," katanya, Minggu (13/9).

Ia menjelaskan, terdapat 12 catatan kritis terkait penge­lolaan bencana di Banten. Poin-poin tersebut meliputi per­lunya penambahan anggar­an kebencanaan, penguatan persediaan logistik (buffer stock), modernisasi sarana dan prasarana, serta evaluasi kapasitas gudang penyim­panan bantuan. 

Selain itu, keandalan sistem peringatan dini (Early Warning System), pemeliharaan rutin alat operasional, hingga pemu­takhiran peta wilayah rawan bencana juga menjadi sorotan utama.

"Anggaran kebencanaan ha­rus dipandang sebagai in­ves­tasi keselamatan ma­syarakat, bukan sekadar be­lan­ja ketika bencana sudah terjadi," jelasnya.

Tak hanya aspek teknis, per­hatian terhadap kelompok ren­tan seperti anak-anak, lan­sia, dan penyandang disa­bilitas saat tanggap darurat tu­rut menjadi perhatian. Edu­kasi masyarakat melalui simulasi evakuasi berkala dan koordinasi lintas sektor bersa­ma TNI, Polri, Basarnas, serta relawan juga dinilai perlu terus ditingkatkan.

"Fraksi PDI Perjuangan me­ne­gaskan bahwa keselamatan ma­syarakat merupakan prio­ritas utama yang tidak bisa ditawar. Penguatan BPBD Banten dipandang bukan sekadar urusan kelembagaan, melainkan kewajiban negara dalam melindungi warga dari ancaman bencana," paparnya.

Sebelumnya, Pemprov Banten bersama BPBD memastikan peta dan jalur evakuasi penanganan bencana akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) telah disiapkan secara menyeluruh. Meski demikian, kelengkapan rambu serta petunjuk fisik jalur evakuasi di lapangan masih belum merata di seluruh kawasan pesisir.

Kepala BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahiddin, mengatakan berdasarkan hasil pemetaan, jalur evakuasi di kawasan padat penduduk dan pusat pariwisata seperti Anyer, Carita, Labuan, hingga Pulo Merak saat ini sudah dilengkapi dengan rambu penunjuk arah dan titik kumpul. 

"Jalur evakuasi itu kita sudah ada peta evakuasi se-Indonesia, termasuk Banten. Tapi dari sekian peta itu, yang sudah terpasang rambunya memang di daerah ramai penduduk dan wisata, mulai dari Anyer, Carita, sampai Labuan," katanya.

Namun sayangnya, untuk wilayah pesisir bagian selatan seperti Kabupaten Lebak mulai dari Bayah, Binuangen, hingga wilayah Ujung Kulon, kelengkapan fisik rambu evakuasi dilaporkan masih minim akibat keterbatasan anggaran pengadaan.

Sumber: