“Untuk perekrutan peserta, penerima manfaat, kemudian pendamping dan obat-obatan itu dari Dinkes. Jadi tetap melalui Puskesmas dan RSUD. Ini dari Dinkes nanti yang menyeleksi pesertanya,” jelas Danni.
Ia juga memaparkan Baznas bertanggung jawab terhadap pembiayaan program ini. Untuk pelaksanaan hingga Desember 2026, Baznas mengalokasikan anggaran sekitar Rp250 juta yang bersumber dari dana zakat.
Danni menyebut penerima manfaat telah diverifikasi dan termasuk dalam kategori asnaf, terutama kelompok masyarakat miskin.
Selain mendapatkan pengobatan dan pendampingan, lanjut Danni, pasien juga memperoleh berbagai fasilitas selama menjalani masa perawatan. Di antaranya makan tiga kali sehari, snack dua kali, pendampingan untuk memastikan pasien minum obat, kamar berpendingin udara, kamar mandi yang layak serta ruang kegiatan.
Ia menambahkan pasien juga diberikan kompensasi biaya hidup sebesar Rp100 ribu per hari karena harus meninggalkan aktivitas pekerjaannya selama menjalani pendampingan.
“Kalau dua minggu berarti Rp1,4 juta. Itu sebagai pengganti biaya hidup mereka selama masuk di sini,” ujar Danni.
Pada tahap awal, RSB Sahabat Paru menargetkan enam pasien TBC mendapatkan layanan. Danni memastikan kebutuhan pendampingan maupun konsumsi pasien telah dipersiapkan.
“Targetnya enam orang. Pendampingnya sudah ada, menunya sudah disusun, catering-nya sudah ada. Ini tinggal berjalan,” katanya.
Menurutnya, program tersebut tidak berhenti pada upaya membuat pasien sembuh. Setelah kondisi kesehatan membaik, Baznas juga berencana memberikan intervensi ekonomi berupa bantuan modal usaha agar penerima manfaat dapat kembali produktif dan mandiri.
“Harapannya bisa berubah menjadi sehat, kemudian mandiri, dan harapannya jadi muzakki satu waktu,” pungkasnya. (mg-9/mol)