TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Sekretaris Komisi V DPRD Banten, Rifki Hermiansyah meminta kepada Pemprov Banten khususnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten untuk bergerak cepat dalam menekan penyebaran kasus campak di Banten.
Ia menjelaskan, tingginya angka suspek campak yang mencapai hingga 2.000 kasus harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya penyakit yang diakibatkan oleh virus ini bisa menyebabkan kematian dalam kasus berat.
"Kami di DPRD sangat memperhatikan lonjakan angka suspek yang mencapai 2.000 kasus dalam tiga bulan pertama di 2026 ini," katanya, Kamis (26/3).
Maka dari itu, pihaknya akan memanggil Kepala Diskes Banten untuk memastikan penangan secara menyeluruh. Dengan begitu diharapkan dapat menekan penyebaran kasus suspek campak di tanah jawara.
"Kami akan segera memanggil Dinkes Banten untuk memaparkan sejauh mana kesiapan mereka di lapangan," tuturnya.
Ia mengaku, pengawasan dewan akan difokuskan pada kesiapan logistik medis, khususnya ketersediaan vaksin campak dan obat-obatan di seluruh wilayah Banten, terutama daerah yang masuk kategori rawan.
"Kami ingin memastikan ketersediaan obat-obatan campak dan vaksin MR mencukupi untuk seluruh wilayah Banten, terutama di zona merah seperti Pandeglang dan Tangerang. Jangan sampai ada kendala stok di tengah ancaman KLB ini," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan bahwa kasus suspek campak di Banten saat ini cukup tinggi.
Dalam triwulan pertama di 2026 kasus suspek campak lebih dari 2.000 yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Banten.
"Saat ini kasusnya tengah tinggi jadi harus waspada," katanya, belum lama ini.
Penularan campak harus terus diwaspadai, bahkan berdasarkan hasil surveilans aktif yang dilakukan Dinkes Banten, sepanjang tahun 2025 ditemukan lebih dari 6.000 kasus suspek campak.
"Dari sekitar 6.000 lebih suspek yang kita temukan tahun 2025, sekitar 510 kasus dinyatakan positif campak," ujarnya.
Apalagi dalam momen Lebaran, penularan penyakit memiliki potensi yang tinggi termasuk campak yang mudah menyebar terutama kepada anak kecil.
"Anak-anak, terutama bayi yang baru lahir, sebaiknya tidak terlalu banyak disentuh oleh anggota keluarga atau orang lain saat momen Lebaran," terangnya.
Ia menjelaskan, penyebaran campak bisa terjadi lantaran interaksi yang tinggi, apalagi dalam momen silaturahmi Lebaran yang memungkinkan adanya momen kumpul bersama keluarga.