Pria yang biasa disapa Pak Ben ini menambahkan, kolaborasi tersebut melibatkan Balai Jasa Konstruksi, HAKI, serta Kadin Tangsel. “Sebanyak 150 orang ini merupakan tahap awal. Mudah-mudahan nanti bisa kita tambah lagi sampai kuotanya lebih dari 200 peserta untuk tahun ini,” tambahbya.
Menurut Pak Ben, pola yang dibangun Pemkot Tangsel adalah pelatihan kemudian sertifikasi untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja. “Peserta pelatihan ini bukan tenaga kerja baru. Mereka adalah pekerja yang memang sudah bergelut di bidang konstruksi, sehingga pelatihan ini sifatnya penguatan kompetensi dan peningkatan standar,” jelasnya.
Pak Ben berharap, output dari program ini adalah tenaga kerja yang memiliki sertifikat sehingga memiliki daya tawar lebih baik dan kualitas pembangunan semakin terjamin. “Ke depan, pelatihan serupa juga bisa dikembangkan untuk bidang lain seperti beton, pasangan bata, dan bidang-bidang konstruksi lainnya sesuai kebutuhan,” terangnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas SDABMBK Robby Cahyadi mengatakan, sertifikasi tenaga ahli maupun tenaga terampil saat ini sudah menjadi kewajiban dalam pelaksanaan proyek konstruksi.
“Program ini juga dibantu oleh Balai Jalan dan Kementerian Pekerjaan Umum. Memang sekarang sertifikasi tenaga ahli maupun tenaga terampil itu sudah menjadi kewajiban dalam pelaksanaan proyek-proyek konstruksi,” ujarnya.
Robby mengatakan, ke depan sertifikasi tidak hanya untuk satu bidang, tetapi seluruh tenaga kerja konstruksi. “Kedepan, tenaga terampil ini bukan hanya bidang atap atau jaringan saja. Tapi semuanya harus bersertifikat, mulai dari tukang batu, tukang besi, sampai pekerja umum,” tambahnya.
Menurutnya, pelatihan dilakukan selama dua hari dan dilanjutkan dengan tes sertifikasi. “Pelatihannya dilakukan selama dua hari dan nanti ada tes. Jadi setelah pelatihan, langsung dilanjutkan dengan sertifikasi,” jelasnya.
Robby menambahkan, bidang pemasangan baja ringan dan jaringan memiliki standar teknis tersendiri yang harus dipahami pekerja. “Atap jaringan itu punya standar teknis sendiri, ada SNI yang harus diikuti, termasuk cara pemasangan, jarak, dan spesifikasinya. Kalau pemasangannya tidak sesuai standar, terkena angin sedikit bisa rusak dan lepas,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Balai Jasa Konstruksi Wilayah III Jakarta Priyono mengatakan, pelatihan ini merupakan bentuk apresiasi Kementerian PUPR atas prestasi Pemkot Tangsel dalam pembinaan jasa konstruksi.
“Tahun lalu Pemkot Tangsel memperoleh penghargaan juara dua pembinaan OPD di tingkat kabupaten/kota. Dari capaian tersebut, Kementerian PUPR memberikan apresiasi berupa program pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja konstruksi tingkat terampil,” ujarnya.
Priyono menambahkan, kuota pelatihan pada 2024 sebanyak 300 orang yang dilaksanakan dua tahap, kemudian berlanjut pada 2025 dengan kuota tambahan 200 orang.
“Alhamdulillah, di tahun 2025 Kota Tangsel kembali meraih penghargaan juara dua pembinaan jasa konstruksi. Sehingga kembali mendapatkan apresiasi berupa pelatihan dan sertifikasi sebanyak 200 orang,” tambahnya.
Priyono menyebut, kegiatan kali ini difokuskan pada pemasangan baja ringan karena sesuai kebutuhan lapangan. “Untuk kegiatan pelatihan dan sertifikasi kali ini fokusnya adalah pada pemasangan baja ringan. Harapannya, hasil dari pelatihan ini benar-benar bisa diterapkan dalam pekerjaan konstruksi secara nyata,” jelasnya.
”Kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian PUPR, dan stakeholder jasa konstruksi dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja,” tutupnya. (bud)