Puluhan Warga Batuceper Terjangkit DBD

Selasa 06-01-2026,21:40 WIB
Reporter : Abdul Aziz Muslim
Editor : Endang Sahroni

“Kami berharap ada kete­gasan, evaluasi dan peringatan dari kelurahan untuk para RT RW-nya, Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kesehatan warga harus menjadi prioritas utama,” pung­kasnya.

Kasus DBD khususnya di lingkungannya di RT 02 RW 06 menjadi pengingat bahwa penanganan penyakit berbasis lingkungan tidak cukup dila­kukan secara reaktif. Diper­lukan peran aktif seluruh un­­sur wilayah, terutama RT dan RW, agar pencegahan dapat berjalan efektif dan ke­­­­se­lamatan warga lebih ter­jamin.

Sementara itu, Petugas Pus­kesmas Batusari, Adiyaksa selaku  Penanggung Jawab penanganan kasus DBD, me­ngatakan,  selama ini pihaknya menangani sebanyak 29 kasus DBD dan 73 Demam bisa. Pe­nanganan kasus DBD dila­ku­kan berdasarkan laporan resmi dari rumah sakit dan hasil pemantauan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

“Setelah laporan kasus DBD masuk dari rumah sakit, kami langsung melakukan penye­lidikan epidemiologi ke lapa­ngan, memeriksa jentik, di­lan­jutkan dengan kerja bakti, penyuluhan, dan fogging bila diperlukan,” kata Adiyaksa.

Dia menambahkan, di wila­yah kerja Puskesmas Batusari terdapat 16 kader Jumantik sesuai jumlah Posyandu. Se­lain itu, pada tahun 2026 pi­haknya mulai menjalankan program Jumantik Sekolah yang melibatkan Dokter Kecil, Penanggung Jawab UKS, dan Kesehatan Remaja.

Adiyaksa menyebut pening­katan kasus DBD umumnya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan November 2025, seiring meningkatnya curah hujan. Pihak puskesmas pun meng­im­bau masyarakat untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. (ziz)

Kategori :

Terkait