BJB

Dinkes Eleminasi Penyakit ATM, Targetkan Zero Insiden di 2030

Dinkes Eleminasi Penyakit ATM, Targetkan Zero Insiden di 2030

Salah satu kemitraan sedang menandatangani berita acara agar bekerjasama untuk eleminasi penyakit ATM, pada acara sosialisasi penyakit ATM di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (21/10). (AGUNG GUMELAR/TANGERANG EKSPRES)--

SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang me­la­kukan pertemuan dengan ke­mitraan untuk eleminasi penyakit Aids Tuberculosis dan Malaria (ATM) supaya mencapai zero in­siden di 2030.

Adapun kemitraan yang hadir diantaranya OPD non Dinkes, komunitas, perusahaan, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Serang. Mereka semua menan­da­tangani berita acara agar be­kerjasama untuk eleminasi pe­nyakit ATM.

Program Coordinator RRSH dr Sri Rustiati mengatakan, penyakit ATM kompleks masalahnya yang tentunya tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dinkes sendiri.

Sehingga perlu adanya peran aktif dari berbagai kemitraan untuk membantu menyelesaikannya agar masyarakat terhindar dari penyakit tersebut dan tetap terjaga kesehatannya.

"Misalnya dinas sosial yang men­dapat bantuan sosial itu kalau bisa mereka yang terkena penyakit Aids atau Tuberculosis atau Mala­ria. Kemudian Perkim, bisa dibantu bangun Rutilahu bagi mereka yang terkena penyakit, dan peru­sahaan dilakukan screening kepada karyawannya khawatir ada pe­nyakit tersebut," katanya kepada wartawan usai acara di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (21/10).

Sri mengatakan, kalau bisa dita­ngani oleh semua pihak dengan baik dipastikan sampai 2030 pe­nyakit ATM ini sudah tidak menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Serang maupun di Indonesia se­cara keseluruhan. 

"Jadi kami memfasilitasi Dinkes Kabupaten Serang, karena perlu dukungan dari semua pihak untuk mencapai eleminasi penyakit ATM," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti me­ngatakan,  kalau tren Aids makin meningkat, bukan berarti dari dulu kasusnya lebih meningkat, tapi secara aktif pihaknya mene­mukan kasusnya dibantu dengan pihak-pihak lainnya.

Karena untuk penemuan kasus ini perlu kesadaran  penderitanya untuk mau diperiksa, yang meng­gerakkan pemeriksaan ini dari sektor lain. Seperti perusahaan melalui program screening ta­hunan, lalu pemerintah dengan CKG yang dikerjakan Puskesmas dan lain sebagainya.

"Begitupun kasus Tuberculosis dan Malaria juga kita upayakan masif menemukannya, semoga bisa tercapai eliminasi 2030. Jadi, aspeknya tadi banyak yang kita garap ya tidak hanya aspek kese­hatan saja, tapi termasuk dukungan dari jaminan kesehatannya melalui dinsos bantuan sosial, termasuk rutilahu dan lainnya," katanya.

Istianah mengatakan, pihaknya punya langkah preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Ada  juga upaya melakukan komunikasi, informasi, edukasi, tentang bahaya penyakit ATM, bagaimana supaya tidak tertular agar masyarakat punya kesadaran untuk mau periksa kesehatannya.

Karena penyakit menular di­ibaratkannya sebagai fenomena gunung es. Kalau terus ditemukan dan dituntaskan melalui skrining dan deteksi dini, akan sembuh dan tidak menjadi sumber penu­laran bagi yang lainnya.

"Kita punya upaya namanya TPT atau Terapi Pencegahan Tuber­kulosis, bagi yang kontak serumah, kontak dekat dan erat dengan penderita, kita berikan obat pen­cegahan supaya tidak jatuh menja­di sakit," ujarnya. (agm)

Sumber: