BJB

Manfaatkan Medsos Jadi Peluang Usaha

Manfaatkan Medsos Jadi Peluang Usaha

Wali Kota Tangerang Sachrudin (tengah) foto bersama peserta pelatihan afiliator di Auditorium Lantai 6 Gedung Muhammad Astary, Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, Kamis (22/10). -Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Wali Kota Tangerang Sachrudin mendorong mahasiswa memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan kemandirian eko­nomi. Salah satunya me­lalui pemasaran afiliasi atau affiliate marketing yang dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus sarana mem­bantu mempromosikan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal tersebut disampaikan Sachrudin saat membuka se­minar dan pelatihan afiliator bertajuk Main Sosmed Jadi Mesin Cuan di Auditorium Lantai 6 Gedung Muhammad Astary, Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Ta­ngerang, Kamis (22/10).

Sachrudin mengapresiasi inisiatif Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Provinsi Banten dan Kota Tangerang yang berkolaborasi dengan dunia usaha dalam memberikan pelatihan pemasaran digital kepada mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, sekaligus membekali generasi muda agar mampu menangkap peluang ekonomi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Pelatihan seperti ini sangat penting untuk membuka wa­wasan, meningkatkan keterampilan, sekaligus mendorong masyarakat agar mampu menangkap peluang usa­ha di tengah perkembangan dunia digital yang semakin pesat,” ujarnya, Kamis (22/10).

Ia menjelaskan, pemasaran afiliasi memberikan kesempatan kepada masyarakat un­tuk memperoleh penghasilan dengan mempromosikan produk atau jasa melalui tautan maupun konten digital. Dengan sistem tersebut, seseorang berpeluang mendapatkan komisi dari transaksi yang memenuhi ketentuan tanpa harus memiliki toko atau memproduksi ba­rang sendiri.

Meski demikian, Sachrudin mengingatkan bahwa menjadi afiliator tidak cukup hanya dengan membuat konten untuk mengejar penjualan. Kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan konsumen harus menjadi prinsip utama dalam memasarkan produk.

“Kepercayaan adalah modal utama. Karena itu, promosi harus dilakukan secara jujur, informasi produk disampaikan dengan benar, dan setiap konten dibuat secara bertanggung jawab. Jangan sam­pai keinginan memperoleh keuntungan justru mengabaikan etika dan merugikan konsumen,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) APINDO Banten Tomy Rachmatullah mengatakan, pelatihan afiliator merupakan salah satu program APINDO Daya yang mulai dilaksanakan di Kota Tangerang. Program tersebut diharapkan dapat melahirkan afiliator baru yang mampu memanfaatkan media sosial secara produktif.

“Harapannya, kebiasaan kita bersosial media tidak ha­nya untuk hiburan, tetapi juga bisa produktif. Ini diharapkan dapat menambah kesempatan mereka untuk berusaha melalui digital marketing,” katanya.

Ia menjelaskan, peserta akan mendapatkan materi mengenai konsep pemasaran afiliasi, praktik pembuatan konten kreator, hingga cara mem­promosikan produk. Pelaksanaan pelatihan tersebut juga didukung Paragon Corp sebagai anggota APINDO yang turut memberikan materi ke­pada mahasiswa.

Di sisi lain, Ketua DPK APINDO Kota Tangerang Ismail menambahkan, program ter­sebut merupakan bagian dari upaya mendorong mahasiswa menjadi wirausaha muda. Melalui pendampingan dan pembinaan, mahasiswa diharapkan dapat mem­bangun usaha sendiri tanpa harus selalu bergantung pa­da kesempatan kerja formal.

“Mahasiswa bukan hanya sebatas mengikuti pelatihan ini saja. Harus diterapkan dan diaplikasikan dengan ketekunan serta kedisiplinan, sehingga mereka bisa menciptakan wirausaha baru dan menghasilkan uang untuk diri sendiri,” ungkapnya.

Wakil Rektor III UNIS Tangerang, Dr. Hj. Dine Agustine, S.Si., M.Si., menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan afiliator menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus mengembangkan jiwa kewirausahaan.

Ia mengungkapkan, tingginya antusiasme mahasiswa membuat pihak kampus mem­batasi pendaftaran awal sebanyak 140 peserta karena keterbatasan narasumber. Namun, jumlah mahasiswa yang hadir mencapai sekitar 160 orang.

Sumber: