BJB

Pemprov Banten Kaji Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung–Merak

Pemprov Banten Kaji Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung–Merak

KRL di Stasiun yang ada di wilayah Banten. (DISHUB BANTEN FOR TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten tengah menyelesaikan Dokumen Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS) Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung–Serang–Cilegon–Merak.

Langkah ini di­ambil guna menghapus ham­batan perpindahan pe­numpang (transshipment) di Stasiun Rangkasbitung yang selama ini dialami warga Ban­ten me­nuju wilayah Jabodetabek.

Plt Kepala Dishub Provinsi Banten, Endad Haryanto, me­ngatakan pihaknya akan me­nyerahkan dokumen kelayakan ini kepada Pemerintah Pusat, meliputi Menko Bidang In­fra­struktur dan Pembangunan Ke­wilayahan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan, serta Menteri PPN/Kepala Bappenas. 

"Dokumen ini menjadi peme­nuhan readiness criteria agar proyek elektrifikasi dapat ma­suk program prioritas dan direalisasikan berdampingan dengan proyek Jalur Ganda (Double Track) yang tercan­tum dalam RPJMN 2025–2029," katanya, Kamis (24/9).

Menurutnya, selama ini peng­guna kereta api dari arah Me­rak, Cilegon, dan Serang ha­rus turun di Stasiun Rang­kas­b­itung untuk beralih dari KA Lokal ke KRL Commuter Line Rangkasbitung (Green Line) jika ingin melanjutkan perjalanan ke Jakarta atau Tanah Abang. 

"Padahal, data survei men­catat 95 persen penumpang KA Lokal Merak memiliki tu­ju­an akhir di jaringan Com­muter Line Jabodetabek," ujarnya.

Pertumbuhan penumpang yang sangat tinggi menjadi alasan utama mendesaknya perpanjangan rute KRL. Ber­dasarkan data KRL Commuter Line Rangkasbitung memiliki jumlah penumpang mencapai 77,5 juta orang pada 2025 dan diproyeksikan melonjak hing­ga 85 juta orang pada 2026, dengan tingkat keterisian (oku­pansi) jam sibuk menyen­tuh 161 persen.

"Sementara KA Lokal Com­muter Line Merak, melayani 14 perjalanan sehari dengan tingkat keterisian mencapai 129 persen. Jumlah penum­pang diproyeksikan meningkat dari 4,46 juta (2025) menjadi 4,67 juta orang pada 2026," tuturnya.

Dikatakan Endad, penyu­sunan studi kelayakan ini di­picu oleh koordinasi antar­instansi dalam Rapat Koor­dinasi pada 25 Juni 2025 di Serang yang diprakarsai Wali­kota Serang bersama Ditjen Perkeretaapian Kemenhub, BTP Kelas I Jakarta, PT KAI, dan Dishub Banten. 

"Mengingat kajian Double Track Ditjen Perkeretaapian periode 2008–2012 belum mencakup jalur listrik aliran atas (LAA), Pemprov Banten mengambil inisiatif mendanai Studi Kelayakan Elektrifikasi melalui APBD 2026," jelasnya.

Ia menjelaskan, hasil FS ini nantinya akan diserahkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni ke Pemerintah Pusat agar dapat segera menindaklanjuti ke tahap Detail Engineering Design (DED) dan pemba­ngunan fisik. Perpanjangan layanan KRL hingga ke Serang, Cilegon, dan Merak diyakini dapat memangkas waktu tempuh mobilitas komuter, petani, dan pedagang, seka­ligus menggairahkan sektor pariwisata menuju Banten Barat dan Selatan.

Sementara itu, Plt Kepala Bidang Perhubungan Laut, Udara, dan Perkeretaapian Dishub Banten, Usep Her­diana, mengatakan bahwa berdasarkan hasil study k­e­layakan, menyimpulkan be­berapa poin strategis. Mulai dari kelayakan ekonomi: Nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) berada di atas 10 persen dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp1,29 triliun.

Kemudian, lonjakan kapa­sitas: elektrifikasi mampu me­ningkatkan kapasitas ang­kut penumpang lintas Rang­kasbitung–Merak secara signifikan dari 9.900 penum­pang/hari menjadi 18.000 penumpang/hari.

Lebih lanjut, lembangunan dapat dilakukan bertahap, dimulai dari segmen Rang­kasbitung–Serang, sebelum dilanjutkan ke Cilegon dan Merak.

Sumber: