BJB

Kemarau Diprediksi Sampai Oktober

Kemarau Diprediksi Sampai Oktober

CUACA PANAS: Mobil Damkar milik Pemkot Tangsel terparkir di depan gedung Posko Terpadu Bencana di kawasan Kecamatan Pamulang. -Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II memprediksi musim kemarau 2026 di wilayah Banten masih akan berlangsung hingga Oktober 2026.

Plt. Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, sebagian besar wilayah Banten masih berada dalam periode kemarau hingga Oktober.

“Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, wilayah Banten berlangsung hingga Oktober 2026,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Senin (7/9).

Anna menambahkan, puncak musim kemarau 2026 di Provinsi Banten umumnya diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Namun, terdapat sejumlah wilayah yang mengalami puncak kemarau pada bulan berbeda.

Banten bagian selatan dan Kota Serang bagian tengah diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026. Sementara itu, Banten bagian timur diprediksi mencapai puncak kemarau pada September 2026.

Ana menjelaskan, hujan yang sesekali turun selama periode kemarau tidak serta-merta menjadi tanda bahwa musim penghujan telah tiba. “Pada saat musim kemarau masih ada kemungkinan terjadi hujan. Hal tersebut bukan menjadi penentu akan masuknya musim penghujan,” tambahnya 

Menurutnya, salah satu indikator penentuan awal musim penghujan adalah ketika curah hujan mencapai 50 milimeter atau lebih selama tiga dasarian berturut-turut.

Terkait kondisi malam hari yang belakangan terasa lebih dingin, Ana menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan proses pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer setelah matahari terbenam.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika langit cerah dan tutupan awan relatif sedikit. Pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat sehingga suhu permukaan mengalami penurunan yang lebih signifikan.

“Kondisi ini umum terjadi pada periode kemarau atau saat tutupan awan berkurang, sehingga masyarakat merasakan penurunan suhu yang lebih dingin pada malam hingga dini hari,” jelasnya.

Sementara terkait sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Ana menyebut hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi abu vulkanik yang berada di udara. Partikel abu dapat terbawa turun bersama tetesan air hujan. 

Dengan demikian, hujan secara umum dapat membantu membersihkan udara dari partikel-partikel halus yang sebelumnya terbawa angin.

Namun, kondisi tersebut juga membuat abu yang jatuh menjadi lebih berat dan menempel pada berbagai permukaan, seperti tanah, tanaman, kendaraan, hingga saluran air.

Pada intensitas hujan yang cukup, abu yang sebelumnya melayang di atmosfer dapat lebih cepat mengendap. "Saya mengimbau masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca saat ini, khususnya di wilayah yang masih terdapat sebaran abu vulkanik," ungkapnya.

Sumber: