Dunia Sepak Bola Berduka, Coach Iwan Setiawan Tutup Usia
Coach Iwan Setiawan (58) meninggal dunia di kediamannya di Villa Pamulang, Kecamatan Pamulang, Kamis (3/9) sekitar pukul 06.00 WIB. -Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres-
TANGERANGEKSPRES.ID, PAMULANG — Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka. Salah satu putra terbaiknya, Iwan Setiawan (58), meninggal dunia di kediamannya di Villa Pamulang, Kecamatan Pamulang, Kamis (3/9) sekitar pukul 06.00 WIB.
Iwan meninggal dunia setelah mengalami penyakit yang dideritanya. Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan di TPU Sarimulya, Kecamatan Setu, pada Kamis hari ini.
Semasa menjadi pemain, Iwan Setiawan pernah memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Salah satu pertandingan bersejarah yang pernah dijalaninya adalah ketika Indonesia menghadapi Korea Selatan dalam kualifikasi Pra-Piala Dunia 1986.
Dalam pertandingan tersebut, Indonesia harus mengakui keunggulan Korea Selatan dengan skor 0-2.
Setelah mengakhiri karier sebagai pemain, Iwan kemudian dikenal sebagai pelatih yang memiliki karakter kuat dalam membina pemain. Ia dikenal disiplin, memiliki kemampuan taktik serta ketajaman dalam melihat potensi pemain. Terakhit Iwan menjadi pelatih Sriwijaya FC.
Salah satu sosok yang banyak belajar dari Iwan adalah Ferry Paulus. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) tersebut mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menemukan dan mengembangkan talenta sepak bola.
“Dia sangat disiplin, penuh dengan taktik. Yang luar biasa, Coach Iwan selalu dan sering menghasilkan pemain-pemain yang bertalenta. Matanya sangat tajam dalam melihat calon-calon pemain,” ujar Ferry kepada Tangerang Ekspres, Kamis (3/9).
Ferry menambahkan, kemampuan Iwan dalam membaca potensi pemain membuatnya mampu mengembangkan seorang pemain di luar posisi naturalnya. Menurutnya, sejumlah pemain yang awalnya memiliki posisi sebagai striker bahkan dapat berkembang ketika dipindahkan ke posisi bertahan berdasarkan penilaian Iwan.
“Banyak sekali pemain yang posisi naturalnya striker, tiba-tiba dipindahkan ke center back. Seperti Jajang, Fachrudin, Indra Kafi dan banyak pemain lainnya. Itu bisa dilakukan karena ketajaman beliau dalam melihat dan membaca pemain,” jelasnya.
Ferry mengaku masih berkomunikasi dengan Iwan sekitar tiga hari sebelum almarhum meninggal dunia. Dalam komunikasi terakhir tersebut, kondisi Iwan disebut masih seperti biasa.
“Tiga hari lalu. Saya sering berkomunikasi sama dia,” tuturnya.
Kepergian Iwan meninggalkan banyak kenangan bagi Ferry. Selama berkecimpung di dunia sepak bola, keduanya memiliki banyak pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Bagi Ferry, Iwan bukan sekadar sosok yang dikenal dalam perjalanan sepak bola, tetapi juga seorang guru yang memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga.
“Wah, banyak sekali. Terlalu banyak kenangan sama Iwan di dalam sepak bola. Saya banyak belajar dari beliau. Dia adalah guru terbaik buat saya di dalam sepak bola,” tutupnya.
Sementara itu, kepergian Iwan Setiawan meninggalkan kenangan mendalam bagi sejumlah pemain yang pernah dibina dan dilatihnya. Salah satunya adalah mantan pemain profesional, Amarzukih. Ia mengaku menganggap Coach Iwan seperti orang tua sendiri.
Sumber:
