Masuk Peta Jalan Nasional, Geothermal Gunung Endut Segera Dilelang
WAWANCARA: Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, Ari James Farrady saat diwawancarai belum lama ini.(Syirojul Umam/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemerintah Provinsi Banten bersiap menyambut mega proyek energi terbarukan seiring rencana Kementerian ESDM melelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Endut, Lebak. Menjadi satu dari 14 titik strategis di Indonesia, proyek ini diharapkan mampu mendongkrak ketahanan energi nasional berbasis ramah lingkungan.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten, Ari James Faraddy menjelaskan, pengumuman potensi panas bumi ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM dalam Pertemuan Tahunan Panas Bumi di Jakarta. Namun ia menegaskan bahwa status WKP Gunung Endut saat ini belum masuk ke tahap lelang resmi, melainkan baru tahap pengenalan potensi untuk menjaring minat investor.
“Pak Menteri menyampaikan bahwa ini ada potensi 14 WKP di Indonesia, salah satunya Gunung Endut. Namun, prosesnya tidak langsung dilelang begitu saja. Semua masih menunggu adanya minat dari investor terlebih dahulu melalui pengajuan Letter of Intent (LOI) kepada Kementerian ESDM,” katanya dalam sambutan seluruh, Rabu (2/9).
Ari menjelaskan, jika nantinya terdapat badan usaha yang berminat, proses administrasi dan persiapan lelang baru akan berjalan. Tahapan tersebut meliputi penyusunan dokumen lelang, koordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemprov Banten, Pemkab Lebak, hingga penyelesaian regulasi teknis.”Nanti syaratnya apa dan gimana-gimananya kan kita belum tahu. Nah, regulasi terkait panas bumi juga akan ada perubahan kata pak Menteri,” ujarnya.
Selain itu, pengembangan proyek panas bumi di kawasan Gunung Endut juga membutuhkan penyesuaian regulasi, mengingat lokasi potensi energi tersebut berada di kawasan konservasi. Menurut Ari, mekanisme pengajuan perubahan status zona kawasan hutan baru bisa diproses apabila sudah ada investor yang pasti.”Pengajuan perubahan status kawasan belum diajukan oleh Kementerian ESDM ke Kementerian Kehutanan karena memang harus menunggu kejelasan investor. Sebab, perusahaan yang berminat nanti yang akan mengurus izin pemanfaatan kawasan bersama pemerintah pusat dan daerah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong transisi energi yang berkeadilan dan memperkuat ketahanan energi nasional. Pengalaman keberhasilan pengelolaan panas bumi di Gunung Salak yang telah beroperasi puluhan tahun dan menyuplai kebutuhan listrik wilayah Jawa bagian barat, menjadi bukti bahwa pengembangan geotermal membawa dampak positif bagi perekonomian lokal dan penyerapan tenaga kerja.”Pengembangan panas bumi ini membutuhkan investasi awal dan risiko yang cukup besar, khususnya pada tahap eksplorasi seperti pengeboran. Oleh karena itu, keterlibatan badan usaha sangat krusial. Pemerintah Daerah pada dasarnya siap mendukung dan melibatkan masyarakat sejak awal agar potensi energi hijau di Banten ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warga,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah mempercepat proses lelang sejumlah lokasi panas bumi atas arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Sebelumnya, proses tersebut direncanakan berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun sesuai target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.”Jika kita tarik di seluruh RUPTL untuk maju dilelangkan sekrarang. Jadi, tidak lagi menunggu 10 tahun. Masing-masing kan per tahun ada target-targetnya. Nah, ini biar lebih agresif lagi,” katanya.
Menurut Eniya, 14 lokasi yang masuk dalam daftar tersebut merupakan lokasi baru di luar lima wilayah kerja panas bumi (WKP) dan tujuh penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) yang masih dalam proses.
Meski demikian, Kementerian ESDM masih melakukan sejumlah persiapan sebelum lelang dilaksanakan. Tahapan tersebut mencakup komunikasi dengan pemerintah daerah serta penetapan lokasi.
Ke-14 lokasi tersebut tersebar di sejumlah daerah. Sembalun di Nusa Tenggara Barat memiliki potensi 11 megawatt (MW), Guci di Jawa Tengah dan Suwawa di Gorontalo masing-masing 20 MW. Adapun Marana di Sulawesi Tengah memiliki potensi 28 MW, Gunung Pandan di Jawa Timur 30 MW, dan Sipoholon Ria di Sumatera Utara 35 MW.
Gunung Endut di Banten memiliki potensi 38 MW. Sementara itu, Gunung Ciremai di Jawa Barat dan Songgoriti di Jawa Timur masing-masing 40 MW, serta Danau Ranau di Lampung dan Sumatera Selatan 42 MW. Lokasi lainnya ialah Gunung Wilis di Jawa Timur dengan potensi 50 MW, Lainea di Sulawesi Tenggara 68 MW, Gunung Galunggung di Jawa Barat 125 MW, dan Gunung Iyang Argopuro di Jawa Timur dengan potensi terbesar, yakni 185 MW.(mam)
Sumber:
