BJB

Air Mati Empat Bulan, Tagihan Abodemen Tetap Jalan

Air Mati Empat Bulan, Tagihan Abodemen Tetap Jalan

Seorang warga menunjukkan kondisi aliran air Perumdam TKR yang masuk ke rumahnya. (Zakky Adnan/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Selama empat bulan aliran air Perumdam Tirta Kerta Rahardja (TKR) di wilayah Kosambi Barat, mati. Namun, saat aliran air itu mati, tagihan abodemen tetap berjalan.

Walhasil, warga Kampung Kebon Besar, Kelurahan Kosambi Barat, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, kini harus merogoh kocek lebih dalam. Selain untuk mendapatkan air bersih, juga untuk membayar tagihan abodemen.

Saat ini, puluhan warga mengaku terpaksa mengandalkan air sumur yang kualitasnya buruk. Kondisi itu diperparah letak permukiman yang berada di kawasan pesisir dan kerap terdampak banjir rob.

Tri Asih, warga RT 01/RW 03 Kelurahan Kosambi Barat, mengatakan gangguan aliran air sebenarnya bukan persoalan baru. Sejak menjadi pelanggan pada 2007, ia sudah berulang kali mengalami air tidak mengalir.

Namun, menurutnya, kondisi empat bulan terakhir merupakan yang terparah karena aliran benar-benar mati total.

“Udah sering keluhan begitu, cuma yang total tidak mengalir begini sampai saya ganti sumur tuh udah empat bulanan. Air PDAM sama sekali tidak netes,” ujar Tri Asih saat ditemui di kediamannya, Senin (10/8).

Kondisi tersebut membuat warga terpaksa menggunakan air sumur bor. Sayangnya, air tanah di wilayah itu tidak bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tri menyebut air sumur berwarna hitam, berbau dan terasa asin akibat pengaruh air laut. Jangankan untuk dikonsumsi, untuk mandi pun warga mengaku tidak nyaman menggunakannya.

“Air sumur di sini tidak sehat karena mengandung air laut. Airnya hitam, bau dan asin. Untuk mandi saja tidak layak, apalagi buat masak,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Tri terpaksa membeli air dalam jeriken. Setiap dua hingga tiga hari, ia membeli empat jeriken dengan harga Rp10 ribu per jeriken.

Air tersebut digunakan untuk kebutuhan yang dianggap paling mendesak, seperti memasak, berwudu dan membilas pakaian. Warga juga sesekali mengandalkan bantuan air bersih menggunakan armada tangki.

Keluhan serupa disampaikan Slamet Riyadi. Ia mengaku bukan hanya dipusingkan dengan sulitnya mendapatkan air bersih, tetapi juga tetap menerima tagihan bulanan dari Perumdam TKR.

“Tiap bulan masih ada tagihan Rp72 ribu. Katanya buat beban abonemen dan denda. Padahal airnya kering,” keluhnya.

Warga berharap Perumdam TKR tidak sekadar memberikan penjelasan, tetapi segera memastikan aliran air kembali normal dan pelayanan kepada pelanggan diperbaiki.

Keluhan warga yang mencuat melalui video dan menjadi perhatian publik langsung mendapat respons dari Kelurahan Kosambi Barat.

Lurah Kosambi Barat Aal Laela Nur Aliyah mengatakan pihak kelurahan telah mendatangi kantor pusat Perumdam TKR Kabupaten Tangerang pada Senin (10/8).

Kedatangan tersebut untuk menyampaikan secara langsung aspirasi dan keluhan warga terkait terhentinya pasokan air bersih.

Aal berharap koordinasi dengan pihak Perumdam TKR dapat segera menghasilkan solusi konkret sehingga warga tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.

Perumdam TKR Klaim Aliran Sudah Normal

Sementara itu, Perumdam TKR mengklaim persoalan aliran air di wilayah Kosambi telah ditangani.

Humas Perumdam TKR Hafizh mengatakan pasokan air di Kecamatan Kosambi sudah kembali mengalir.

“Sudah kita tangani dan mengalir. Kemarin tanggal 8 Agustus kami ke Kosambi Timur dan sudah mengalir. Itu satu pipa,” kata Hafizh, Senin (10/8).

Namun, ketika ditanya mengenai keluhan warga yang menyebut air telah mati selama empat bulan, Hafizh enggan memberikan penjelasan lebih jauh.

Ia kembali menegaskan bahwa aliran air di Kecamatan Kosambi telah normal.

“Sudah normal, lihat saja di Instagram Perumdam TKR sudah selesai kok,” ujarnya.

Pernyataan tersebut berbanding dengan keluhan warga Kosambi Barat yang mengaku masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (zky/sep)

Sumber: