Pemkab Serang Tak Gunakan BTT Atasi Kekeringan
MENGANTRI: Warga Kampung Babadan, Kelurahan Terumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sedang mengantri bantuan air bersih dari BPBD Kota Serang, Jumat (31/7).(Aldi Alpian Indra/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, tidak bakal mengeluarkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan bencana kekeringan, yang kini sudah melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Serang.
Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas mengatakan, penggunaan dana BTT tergantung dari adanya peningkatan status kebencanaan atau tidak. Namun selama ini Pemkab Serang, tidak meningkatkan status kebencanaan kekeringan ini sebagai tanggap darurat.
”Dana BTT bisa digunakan kalau dinaikkan status kebencanaannya, jadi belum dikeluarkan dana BTT ini karena status kebencanaannya tidak kami naikkan. Sebab, bencana kekeringan ini masih bisa tertangani dengan baik, kecuali sudah tidak bisa ditangani dan butuh anggaran banyak, baru kita gunakan dana BTT,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya beberapa hari lalu, Minggu (2/8).
Najib mengatakan, selama ini penanganannya dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari CSR dari perusahaan, PDAM Tirta Al Bantani, PMI, BPBD, dan pihak-pihak lainnya. Mereka semua sudah bergerak untuk melakukan penanganan kekeringan, mulai dari menyalurkan bantuan air bersih, pemetaan potensi kekeringan, dan lain sebagainya.”Selama ini dana penanganan kekeringan berasal dari CSR perusahaan, PDAM Tirta Al Bantani, dan pihak-pihak lainnya,” ujarnya.
Najib menghimbau, pada musim kemarau ini masyarakat jangan melakukan aktivitas yang bisa berpotensi terjadi kebakaran, seperti membakar rumput ilalang secara asal-asalan tanpa diawasi. Kemudian membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan, khawatir terbuang ke semak belukar yang kering dan bisa berpotensi menimbulkan kebakaran juga.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kabupaten Serang Fakih mengatakan, berdasarkan hasil analisis yang dilakukannya ini, wilayah Kabupaten Serang sudah masuk dalam kondisi kekeringan sedang. Sejauh ini ada dua kecamatan yakni Kecamatan Carenang dan Kecamatan Binuang, telah meminta bantuan air bersih ke BPBD) Kabupaten Serang.”Ada beberapa kampung di dua kecamatan ini, yang mulai mengalami kesulitan air bersih, sehingga mereka mengajukan permohonan untuk air bersih sudah ditangani. Kita terus bersiaga, karena laporan dari BMKG akan memasuki kemarau panjang, kita juga akan lakukan rapat lintas lembaga untuk penanganan masalah kekeringan,” katanya.
Terpisah, di Kota Serang, krisis air bersih melanda delapan kelurahan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, selama musim kemarau. Menyusutnya debit Sungai Cibanten membuat sumur warga mengering, sebagian berubah menjadi payau, sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Delapan kelurahan yang terdampak yakni Bendung, Terumbu, Kilasah, Mesjid Priyayi, Kasunyatan, Warung Jaud, Sawah Luhur, dan Margaluyu. Kondisi tersebut telah berlangsung sejak Mei 2026 dan kini mulai mengganggu aktivitas masyarakat serta mengancam sektor pertanian akibat berkurangnya pasokan air irigasi.
Salah satu wilayah yang paling terdampak berada di Kampung Babadan, RT 006/RW 002, Kelurahan Terumbu. Warga setempat tidak lagi dapat memanfaatkan air sumur karena debitnya menyusut dan kualitas air berubah menjadi asin.
Warga Kampung Babadan, Tesiroh, mengatakan keluarganya kini hanya mengandalkan bantuan air bersih dari Pemerintah Kota Serang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).”Air sumur sudah kering dan asin, jadi tidak bisa dipakai untuk memasak. Alhamdulillah sekarang ada bantuan air bersih dari BPBD, jadi sangat membantu kebutuhan sehari-hari,” ujarnya, saat dilokasi Jumat (31/7).
Sekretaris Camat Kasemen, Roni Rohimat, mengatakan kekeringan yang melanda wilayahnya terus meluas seiring berkurangnya pasokan air baku selama musim kemarau. Menurutnya, kebutuhan air bersih masyarakat saat ini menjadi persoalan yang paling mendesak.
Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kata dia, kekeringan juga mulai mengancam ribuan hektare lahan persawahan. Menurunnya debit air irigasi dikhawatirkan menyebabkan produktivitas pertanian menurun hingga berpotensi memicu gagal panen apabila kondisi tidak segera membaik.”Kekeringan ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan, mulai Mei hingga sekarang. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga yang kesulitan air bersih, tetapi juga sektor pertanian karena pasokan air irigasi terus berkurang,” katanya.
Roni menjelaskan, persoalan kekeringan di Kecamatan Kasemen hampir terjadi setiap tahun. Selain dipengaruhi musim kemarau, terbatasnya sumber air baku dan belum meratanya jaringan distribusi air bersih di kawasan pesisir menjadi penyebab utama persoalan tersebut terus berulang.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pemerintah Kota Serang bersama BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, dan Perumda Tirta Madani terus mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah terdampak.
Sumber:

