BJB

Batas Air Tertekan Akibat Kawasan Industri

Batas Air Tertekan Akibat Kawasan Industri

Pengeboran air tanah di salah satu wilayah di kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu.--

TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Kondisi muka air tanah atau batas air di wilayah Kabupaten Tangerang semakin tertekan akibat tingginya pemanfaatan air tanah, terutama di kawasan industri. Hal itu berdampak pada permukiman warga yang kesulitan dalam mengebor air tanah.

Kepala Dinas Perkim Kabupaten Tangerang, Bambang Saptho Nurtjahja mengungkapkan, banyak sumur industri yang mengambil air dari kedalaman lebih dari 80 meter. Faktor itu juga, kata dia, yang memperparah krisis air bersih di wilayah Kabupaten Tangerang.

"Sekarang saat kemarau debit air sudah mulai berkurang karena ada tarikan dengan kawasan industri. Sumur industri rata-rata mengambil air pada kedalaman lebih dari 80 meter," ujarnya, Kamis (30/7).

Bambang mengatakan, kondisi itu perlu pengawasan agar pelaku industri tidak mengebor air tanah melebihi 80 meter, agar tidak memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat.

"Kondisi ini harus dikontrol agar tidak semakin memengaruhi ketersediaan air tanah bagi warga," pungkas Bambang.

Diketahui,Perkim Kabupaten Tangerang sedang menyiapkan fasilitas air bersih komunal bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Fasilitas yang akan dibangun berupa Sarana Air Bersih (SAB) berbentuk sumur air bersih yang dapat dimanfaatkan secara komunal oleh masyarakat.

Nantinya, pengelolaan fasilitas tersebut akan diserahkan kepada lingkungan atau warga setempat agar keberlanjutannya tetap terjaga."Yang dibangun itu SAB, sumur air bersih seperti yang biasa kita bangun. Sifatnya komunal dan nanti dikelola oleh lingkungan," katanya.

Kesulitan mendapatkan air tanah dirasakan oleh Nurhayati, salah satu warga Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Nurhayati mengungkapkan, sumur miliknya dibor hingga kedalaman 80 meter, namun tidak mengeluarkan air.

Ia mengaku, saat musim kemarau keluarganya hanya bisa memperoleh sedikit air dari sumur pada pagi hari. Selebihnya, sumur sudah tidak lagi mengeluarkan air sehingga aktivitas rumah tangga sepenuhnya bergantung pada pasokan air bersih dari pemerintah.

"Kalau di rumah paling pagi dapat dua ember. Siang paling seember, malam juga paling seember. Setelah itu sudah enggak ada air lag," ujar Nurhayati. (dan)

Sumber: