BJB

Juli, Kasus Kebakaran Tertinggi, Selama 7 Bulan, Terjadi 65 Kasus Kebakaran

Juli, Kasus Kebakaran Tertinggi, Selama 7 Bulan, Terjadi 65 Kasus Kebakaran

Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel memadamkan api yang membakar lapak pekerja proyek perumahan di kawasan Pamulang.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Dalam kurun waktu 7 bulan terjadi 65 kasus kebakaran di Kota Tangsel. Jumlah tersebut terhitung se­jak Januari hingga 30 Juli 2026. Jumlah itu berpotensi bertambah hingga akhir tahun lantaran masih ada 5 bulan lagi dan ditambah musim ke­marau.

Dalam kurun waktu tersebut, pada Januari terjadi 6 kasus kebakaran, Februari 9 kasus, Maret 3 kasus, April 10 kasus, Mei 7 kasus, Juni 12 kasus dan Juli 18 kasus. Jumlah ter­sebut meningkat dibanding kasus kebakaran yang terjadi selama 2025 yang hanya 61 kasus.

Kepala Dinas Pemadam Ke­bakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel Ahmad Dohiri mengatakan, dalam kurun waktu 7 bulan selama 2026 terjadi 65 kasus kebakaran. "Baru 7 bulan telah terjadi 65 kasus kebakaran di Tangsel. Jumlah ini meningkat drastis dibanding 2025 yang hanyak 61 kasus," ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (30/7).

Dohiri menambahkan, kasus kebakaran terjadi didominasi akibat hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Kasus kebakaran yang terjadi didominasi rumah tinggal yang mencapai 60 persen. Rumah tinggal yang terbakar bukan lantaran ditinggali pemiliknya namun, terjadi diluar pengetahuan mereka. 

"Penyebabnya lagi-lagi akibat korsleting listrik. Lupa cabut colokan listrik saat berpergian dan lainnya," tambahnya.

Kebakaran menjadi salah satu bencana yang dapat menimbulkan kerugian besar karena mampu menghanguskan seluruh harta benda dalam waktu singkat. "Kalau kebakaran sudah terjadi, dampaknya bisa sangat besar. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya sebelum terjadi," jelasnya.

Dohiri mengaku, upaya pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing. Apabila setiap keluarga mampu menjaga rumahnya dari potensi kebakaran, maka risiko terjadinya kebakaran di lingkungan akan semakin kecil.

"Minimal warga diharap bisa menjaga rumahnya sendiri dari bahaya kebakaran. Kalau setiap rumah aman, tentu lingkungan juga akan lebih aman," ungkapnya.

Dohiri mengaku, jumlah kebakaran pada 2025 menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, dimana pada 2024 terjadi 107 kasus kebakaran, 2023 terjadi 93 kasus kebakaran, 2022 terjadi 66 kebakaran, 2021 terjadi 68 dan 2020 terjadi 79 kebakaran. (bud/esa)

Sumber: