Arkeolog Australia Teliti Bangkai Kapal Perang Dunia II
BERBINCANG-BINCANG: Kepala Diskan Kabupaten Serang Mohamad Ishak Abdul Rouf, berbincang-bincang dengan dua peneliti dari university of Sydney Australia, dan ITB Bandung, di kantor Diskan Kabupaten Serang kemarin.(Diskan Kabupaten Serang For Tangerang Eksp--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Arkeolog dari The University of Sydney Australia, saat ini sedang melakukan penelitian terhadap bangkai kapal karam, peninggalan era Perang Dunia ke II di perairan Pulau Panjang, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang.
Mereka ingin mengungkap kondisi serta potensi dari peninggalan sejarah, yang masih tersimpan rapih di dasar laut yang saat ini menjadi warisan cagar budaya bawah laut.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Serang Mohamad Ishak Abdul Rouf mengatakan, ada dua peneliti yang datang ke Kabupaten Serang, yang pertama berasal dari The University of Sydney Australia dan kedua Institut Teknologi Bandung (ITB).
Keduanya datang ke Kabupaten Serang tepatnya ke perairan Pulau Panjang, Kecamatan Puloampel, untuk melakukan kajian akademis terhadap kapal karam, yang diduga tenggelam ketika perang dunia ke II pada masa penjajahan Jepang.”Informasi kapal itu merupakan kapal perang, dulunya digunakan dalam perang melawan Jepang lalu karam di perairan Pulau Panjang. Sehingga, arkeolog dari Australia ini mau meneliti kapal tersebut,” katanya saat ditemui wartawan di depan gedung Setda Kabupaten Serang, Selasa (21/7).
Ishak mengatakan, dari informasi yang didapat bahwa di dalam kapal tersebut masih terdapat meriam, dan sejumlah senjata perang namun untuk kerangka atau jasad awak kapal sudah tidak ada.
Selain itu bangkai kapal perang tersebut saat ini, sudah masuk dalam kategori warisan cagar budaya bawah laut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kapal dan benda bersejarah yang diduga masih berada di dalamnya.”Mereka datang langsung ke kantor Diskan Kabupaten Serang, menyampaikan rencana akan melakukan penelitian. Hasil dari penelitiannya, akan disampaikan secara resmi ke Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP, karena laut kewenangannya kementerian langsung,” ujarnya.
Dikatakan Ishak, bangkai kapal perang berada di kedalaman lebih dari 30 meter, yang kini sudah berubah menjadi habitat atau tempat tinggal dari berbagai jenis ikan. Kondisi tersebut membuat lokasi bangkai kapal perang, sering dimanfaatkan nelayan sebagai tempat memancing atau rumpon alami karena tidak menggangu aktivitas pelayaran nelayan.”Penelitian dilakukan oleh tim kecil, yang terdiri atas dua orang yakni seorang profesor arkeologi dari The University of Sydney dan seorang peneliti dari ITB,” ucapnya.
Kata Ishak, meski turun ke lokasi para peneliti ini tidak melakukan penyelaman, karena mereka hanya mengumpulkan data, memverifikasi titik koordinat, serta menelaah dokumentasi dan arsip yang sebelumnya telah dimiliki Pemprov Banten.”Penelitian akan dilaksanakan selama satu minggu kedepan, hari ini mereka ada di Pemprov Banten, mereka sudah memiliki data awal, termasuk foto-foto kapal saat ditemukan dan dokumen pendukung lainnya,” tuturnya.
Ishak berharap, hasil penelitian tersebut dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan mengenai sejarah maritim Indonesia, sekaligus menjadi dokumentasi penting bagi generasi mendatang.
”Kalau bisa dikembangkan menjadi film dokumenter tentu akan sangat menarik, namun untuk saat ini hasilnya lebih difokuskan sebagai kajian akademik yang nantinya menjadi arsip di perpustakaan mereka,” ujarnya.(agm)
Sumber:

