Ribuan Hektare Sawah Mengering dan Terancam Puso
Plt Kepala Distan Provinsi Banten, Nasir mengikuti panen raya serentak di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, dan terhubung secara nasional dengan pusat kegiatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Jumat (17/7).--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Pertanian mencatat, berdasarkan data kerusakan tanaman padi akibat kekeringan selama Musim Tanam (MT) 2026 sejak akhir Mei hingga 10 Juli, terdapat 1.139 hektare tanaman padi yang mengering, 320 hektare diantaranya terancam puso atau gagal panen. Hal ini terjadi lantaran kondisi yang memasuki musim kemarau panjang serta diperparah fenomena El Nino.
Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saiful Bahri Maemun, mengatakan bahwa dari total lahan yang terdampak kekeringan mencapai 1.139 hektare, terdiri dari 937 hektare dengan kategori ringan, 117 hektare sedang, dan 85 hektare kering berat. Dari total angka itu, 28,5 hektare telah pulih, 400 hektare berhasil dipanen lebih awal, dan 320 hektare masih berstatus terancam.
Sementara, dampak El Nino kali ini tersebar di empat kabupaten utama dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 593 hektare, di mana 400 hektare terpaksa dipanen lebih awal demi menyelamatkan sisa komoditas.
Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Serang dengan 451 hektare lahan terdampak. Dari jumlah tersebut, 320 hektare berada dalam status terancam kritis, sementara 16,5 hektare mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
"Sementara itu, Kabupaten Tangerang mencatat 81 hektare lahan terdampak, dan Kabupaten Lebak melaporkan 14 hektare dengan 12 hektare di antaranya mulai pulih berkat hujan lokal," katanya, Minggu (19/7).
Ia menjelaskan, wilayah yang paling terdampak kekeringan adalah lahan sawah tadah hujan yang belum terjamah jaringan irigasi teknis.
"Tanpa pasokan air dari saluran irigasi, satu-satunya harapan petani adalah curah hujan, yang justru absen dalam beberapa bulan terakhir," ujarnya.
Sementara, hasil monitoring Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan menemukan empat kondisi utama yang memperparah. Mulai dari absennya curah hujan dalam waktu yang panjang secara berturut-turut, kemudian ketiadaan sumber air permukaan di sekitar area persawahan, sumber air yang ada sudah menyusut drastis dan mengering.
"Keempat jarak sumber air yang tersisa terlalu jauh dari lokasi sawah, menyulitkan proses pompanisasi," ungkapnya.
Menurut Saiful, upaya darurat atau jangka pendek lewat pompanisasi bukan tanpa hambatan. Di Kecamatan Tirtayasa, bantuan selang air berukuran 3 inci sepanjang 100 meter dari UPTD Balai Penyuluhan Teknologi Pertanian dan Hortikultura (BPTPHP) ternyata belum mampu menyentuh titik krusial.
"Bantuan selang sudah diterima kelompok tani, namun posisinya belum cukup untuk menjangkau petakan sawah yang berada di bagian tengah karena jaraknya mencapai 900 meter dari sumber air," tuturnya.
Sementara jangka panjang, Dinas Pertanian mendorong penerapan strategi mitigasi yang lebih sistematis yakni penanaman varietas tahan kekeringan seperti Inpari 32, penerapan sistem tumpang sari, pemilihan komoditas palawija untuk lahan kering, serta pengaturan pola tanam sesuai kalender iklim. Koordinasi dengan sumur dalam juga sedang dijajaki sebagai solusi jangka panjang di wilayah yang tidak terjangkau irigasi permukaan.
Sebelumnya, Pemprov Banten melaksanakan panen raya padi serentak di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, dan terhubung secara nasional dengan pusat kegiatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Jumat (17/7).
Panen Raya dilaksanakan pada areal seluas 10 hektare dengan panen simbolis seluas 4 hektare menggunakan varietas unggul Inpari 32, Inpari 42, dan Ciherang.
Sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat, penyuluh, dan petani diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat, memasuki puncak musim kemarau hingga Agustus 2026, terdapat 415 titik di Banten yang berpotensi mengalami kekeringan. Kabupaten Pandeglang menjadi daerah paling banyak dibandingkan dengan daerah lainnya.
Berdasarkan data resmi BPBD Banten, dari total 415 titik rawan kekeringan yang tersebar di wilayah Banten, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan potensi terbanyak, sementara Kota Tangerang menjadi satu-satunya wilayah yang dilaporkan aman dari potensi kekeringan.
Adapun rinciannya Kabupaten Pandeglang sebanyak 111 titik, Kabupaten Lebak 109 titik, Kabupaten Tangerang 101 titik, Kabupaten Serang 64 titik, Kota Tangerang Selatan 14 titik, Kota Serang 12 titik, dan Kota Cilegon empat titik.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, memperkirakan daerah yang pertama merasakan dampak El Nino berada di wilayah pesisir Utara Banten.
"Wilayah yang paling berpotensi terdampak berada di bagian utara Banten, mulai dari Kabupaten Serang hingga kawasan Tangerang Raya," katanya.
Sementara itu, terdapat dua sektor utama yang paling terancam yaitu pertanian dan ketersediaan air bersih bagi warga.
"Sektor pertanian menjadi yang paling rentan karena lahan persawahan diperkirakan mengalami kekeringan," ujarnya. (mam)
Sumber:

