BJB

Nyaris Rp1 Triliun untuk Proyek Irigasi

Nyaris Rp1 Triliun untuk Proyek Irigasi

Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan saat diwawancarai di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, belum lama ini. (SYIROJUL UMAM/TANGERANG EKSPRES)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Pemerintah Pusat dan Pemprov Banten telah mengalokasikan dana fantastis sebesar Rp985,19 miliar yang difokuskan penuh untuk proyek pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi di wilayah Banten.

Langkah ini di­lakukan sebagai bentuk ko­mitmen untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten, Arlan Marzan, mengatakan anggaran tersebut dikucurkan setelah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pem­ba­ngunan, Peningkatan, Reha­bilitasi serta Operasi dan Pe­meliharaan Jaringan Irigasi untuk Men­dukung Swasem­bada Pangan.

"Sinergi pendanaan antara pemerintah pusat melalui APBN dan Pemerintah Provinsi Banten melalui APBD kini menghadirkan peru­bah­an nyata bagi salah satu lum­bung pa­ngan di In­donesia," kata­­­nya, Rabu (15/7).

Investasi yang menyentuh angka hampir Rp1 triliun ini dibagi menjadi dua sumber pendanaan utama, yaitu Pe­merintah Pusat (APBN) me­nyumbang porsi terbesar se­nilai Rp911,98 miliar. Se­mentara itu Pemprov Banten mengalokasikan dana pen­dam­ping sebesar Rp73,21 miliar.

"Total investasi pemba­ngun­an dan rehabilitasi jaringan irigasi di Provinsi Banten sepanjang dua tahun itu men­capai hampir Rp1 triliun," ujarnya.

Pada 2025, Pemerintah Pro­vinsi Banten meng­alokasikan Rp48,91 miliar melalui APBD untuk tujuh paket rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi. Proyek tersebut men­cakup Daerah Irigasi (DI) Cibinuangeun, Cilampe, Ci­koncang, Cilemer, Cipari-Ci­wuni, Cisangu Atas, dan Cisata.

Di tahun yang sama, peme­rintah pusat mengalokasikan sekitar Rp521,28 miliar melalui APBN untuk rehabilitasi 12 daerah irigasi, yakni DI Ci­kalumpang, Cisangu Bawah, Cipari-Ciwuni, Ciwaka Bawah, Cisata, Cilemer, Cisangu Atas, Pasir Eurih, Cikoncang, Ci­binuangeun, Cisiih, dan Ci­banten.

Memasuki 2026, Pemerintah Provinsi Banten kembali me­nganggarkan sekitar Rp24,30 miliar melalui APBD untuk pembangunan Bendung Irigasi Cisiih, rehabilitasi Irigasi Cilampe, serta norma­lisasi dan rehabilitasi irigasi di Desa Pangkalan, Teluknaga.

Sementara itu, pemerintah pusat menyiapkan Rp390,70 miliar melalui APBN 2026 untuk melanjutkan rehabilitasi sembilan daerah irigasi, yakni Cibinuangeun, Cisata, Cile­mer, Cibanten, Cikoncang, Cikalumpang, Pasir Eurih, Cisiih, dan Ciwaka Bawah.

Terpisah, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Lebak, Abeng (60), mengaku konflik perebutan air yang selama puluhan tahun menjadi persoalan utama petani kini mulai hilang.

Menurut Abeng, sejak de­kade 1980-an setiap mema­suki musim tanam kedua (MT II), petani kerap terlibat perse­lisihan karena berebut pasok­an air dari Bendung Cikoncang Ketapang. Bahkan, di lapangan tidak jarang terjadi ketegangan hingga ada petani yang mem­bawa senjata tajam karena khawatir lahannya tidak mem­peroleh aliran air.

"Kalau dulu setiap MT II selalu ribut soal air. Yang tidak kebagian air marah, yang kebagian juga khawatir. Itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an," katanya.

Selain persoalan air, Abeng mengatakan kondisi petani kini jauh lebih baik karena pupuk semakin mudah diper­oleh melalui kios pengecer, sementara solar bersubsidi untuk mengoperasikan traktor, combine harvester, maupun alat pertanian lainnya juga lebih mudah diakses.

Sumber: