BJB FEBRUARI 2026

Jejak Terakhir Vera di Hingar Bingar Peringatan May Day di Monas

Jejak Terakhir Vera di Hingar Bingar Peringatan May Day di Monas

Vera Yulianti, warga Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, usai ikut perayaan Hari Buruh Internasional di Monas, Jakarta, meninggal dunia pada Sabtu (2/5) dini hari.(Dok. Pribadi)--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Di sebuah rumah, di Jalan Tanah Cepe, Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, suasana Sabtu pagi itu terasa begitu menyesakkan. Tak ada lagi tawa Vera Yulianti, gadis yang dikenal penyabar dan ulet itu kini hanyalah isak tangis sang ibu, Parni (63), yang masih tak percaya putri tercintanya pulang dalam balutan kain kafan.

Vera, diusianya 40 tahun itu menjadi noktah kesedihan di tengah gegap gempita peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, Jakarta, Jumat (1/5). Ia menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, pada Sabtu dini hari pukul 02.15 WIB, setelah berjuang melawan dehidrasi hebat yang menyerang tubuhnya.

Kisah pilu ini bermula saat fajar menyingsing pada Jumat pagi, sekitar pukul 05.30 WIB. Vera berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke Monas. Namun, bukan orasi buruh atau tuntutan kesejahteraan yang ia sampaikan kepada sang bunda. Namun, ia berpamitan diajak teman tetangganya untuk jalan-jalan ke Monas, Jakarta.

 ”Anak saya bilangnya diajak jalan-jalan ke Monas sama tetangga. Katanya nanti di sana dikasih sembako, tapi diminta foto KTP juga,” kenang Parni dengan mata berkaca-kaca.

Sebuah kebohongan putih yang manis, barangkali demi menenangkan hati orang tua yang pasti akan cemas jika mendengar kata ”demo”. Namun, niat hati mencari sedikit bantuan sembako justru membawanya ke tengah kerumunan ribuan massa di bawah sengatan matahari yang ekstrim.

Vera yang pernah bekerja di salah satu perusahaan industri di Kota Tangerang, kabarnya, ia mengikuti peringatan Hari Buruh Internasional di kawasan Monas tersebut, selain berharap mendapatkan paket sembako, Vera ingin menenangkan pikirannya lantaran sudah hampir 2 tahun tidak bekerja lagi. 

Siang harinya, Vera terpisah dari rombongannya. Ia sendirian di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, Vera diduga panik dan kelelahan. Ia berdesakan menjadi medan laga terakhirnya di perayaan May Day yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Vera pingsan ditengah kerumunan massa aksi lantaran dehidrasi berat membuatnya tumbang.

Kabar pingsannya Vera sampai ke telinga keluarga tepat saat azan Jumat berkumandang. Agus (40), adik ipar korban. Ia mendapat kabar kakaknya itu tengah dilakukan evakuasi ke arah rumah sakit terdekat oleh Polwan bersama petugas lainnya. Namun sempat kesulitan lantaran jalur menuju rumah sakit terkunci oleh deretan bus massa aksi yang memenuhi bahu jalan.

Vera masuk ruang Instalasi Gawat Darurat RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. ”Pas saya sampai di rumah sakit habis Jumat, kondisi kakak saya sudah kritis. Sudah dipasang alat medis dan selang-selang semua,” ujar Agus.

Vera tak sadarkan diri hingga Sabtu dini hari. Tim medis RSPAD terus berupaya menangani Vera. Sekira pukul 22.30 WIB, Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto, menjenguknya. Politisi dari Partai Gerindra itu sekaligus memfasilitasi administrasi kepesertaan BPJS.

Namun, sekira pukul 02.15 WIB Sabtu dini hari, nyawa Vera tetap tidak tertolong. Tim medis di ICU telah berupaya semaksimal mungkin. Tubuh Vera yang sudah terlalu lemah akibat panas yang sangat ekstrem tak mampu lagi membuatnya ia bertahan.

Kepergian Vera meninggalkan luka sekaligus tanda tanya bagi keluarga. Vera bukanlah buruh aktif, apalagi kader partai. Ia hanyalah seorang warga yang tergiur ajakan tetangga untuk meramaikan suasana dengan iming-iming bantuan pangan.

”Kami saat ini masih menunggu respons lanjutan dari pihak-pihak yang mengajak korban,” tandas Agus.

Kini, Vera telah tenang. Ia dimakamkan pada Sabtu siang pukul 11.10 WIB di pemakaman setempat di wilayah Pinang. Bagi keluarga, kepergiannya adalah pengingat pahit tentang betapa mahalnya harga sebuah keriuhan di tengah kota, dan betapa rapuhnya nyawa di balik janji-janji paket sembako di bawah langit Jakarta yang membara.(ziz)

Sumber: