BJB FEBRUARI 2026

Pemkot Bekali Catin Cara Cegah Stunting

Pemkot Bekali Catin Cara Cegah Stunting

Calon pengantin yang menjadi peserta penyuluhan keluarga berkualitas serius mendengarkan paparan pemateri.-Abdul Aziz Muslim/Tangerang Ekspres-

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Ta­ngerang menggelar kegiatan Penyuluhan Keluarga Berkualitas bagi para calon pengantin (Catin), di gedung Cisadane, Kecamatan Karawaci, Se­nin, 27 April 2026.

Langkah ini diambil sebagai upaya strategis pemerintah da­lam memperkuat ketahanan keluarga dan memutus rantai stunting sejak dini. Dalam kegiatan tersebut DP3AP2KB meng­hadirkan Konselor, Novi Sumarni dari Puspaga Terbang Tinggi.

Kepala DP3AP2KB Kota Tangerang, Tihar Sopian, menjelaskan, program ini dirancang un­tuk membangun pondasi rumah tangga yang kuat sebelum pasangan melangkah ke jenjang pernikahan. Menurutnya, persiapan pernikahan tidak boleh hanya terpaku pada aspek administratif atau ke­meriahan seremoni semata.

"Kami ingin warga Kota Tangerang memiliki persiapan yang matang dalam mengawali rumah tangga. Ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan generasi penerus tumbuh dengan sehat dan cerdas," ujar Tihar usai memberikan sambutan.

Dikatakan Tohar, dalam kegiatan penyuluhan tersebut, pihaknya menekankan pentingnya kesiapan holistik yang mencakup aspek kesehatan, psikologis, hingga manajemen ekonomi. Tihar menyoroti bahwa faktor sosiokultural sangat memengaruhi tumbuh kembang anak, sehingga calon orang tua harus memiliki pemahaman pola asuh yang mumpuni.

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah keterlibatan aktif kedua orang tua dalam pengasuhan. Menurutnya, uru­san membesarkan anak bukan hanya tugas ibu, melainkan tanggung jawab bersama.

"Peran ayah sangat vital, terutama dalam memastikan pemenuhan gizi dan stimulasi anak berjalan optimal. Keluarga yang harmonis adalah kunci utama agar anak tumbuh tanpa ancaman stunting," ujarnya.

Selain edukasi mengenai pola asuh kolaboratif, dalam kegiatan tersebut, para peserta juga dibekali dengan pengetahuan manajemen konflik dan pengaturan ekonomi keluarga. Hal ini dilakukan guna memastikan kesejahteraan keluarga tetap terjaga di masa depan.

Ia berharap, setiap pasangan baru tidak hanya memenuhi syarat sah secara hukum dan agama, tetapi juga memiliki bekal ilmu yang cukup. (ziz)

Sumber: