Efek Tutup Selat Hormuz, Industri Sempat Ancang-ancang Efisiensi
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang Herry Rumawatine memberikan keterangan kepada awak media kaitan kondisi perusahaan di tengah perang dan penutupan Selat Hormuz.(Asep/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TIGARAKSA — Perang Iran lawan Amerika Serikat hingga penutupan Selat Hormuz berdampak sampai ke Kabupaten Tangerang. Kota seribu industri hanya punya ”nyawa” mempertahankan karyawan sampai tiga bulan saja.
Hal ini disebutkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang Herry Rumawatine. Ia memaparkan, penutupan Selat Hormuz akibat perang sudah berjalan satu bulan lebih sejak serangan awal pada 28 Februari lalu.
Herry memaparkan, beberapa perusahaan sempat membahas akan rencana efisiensi untuk pos anggaran operasional. Hanya saja rencana itu belum terlaksana lantaran adanya gencatan senjata dan Selat Hormuz kembali dibuka. ”Bahkan sudah ada ancang-ancang melakukan efisiensi. Dampaknya belum terlalu besar karena baru sebulanan perang kalau bisa bertahan ya bertahan. Kalau tidak bisa iya tinggal tutup,” jelasnya, Kamis (9/4).
Lanjutnya, informasi yang masuk ke Apindo sudah banyak perusahaan yang terdampak akibat penutupan Selat Hormuz. Terutama industri yang mengimpor bahan baku dari Timur Tengah.”Berdasarkan informasi yang masuk ke kita. Perusahaan banyak terdampak akibat perang kemarin. Sekarang sudah gencatan senjata dan tidak sampai bulan. Kalau perang berlanjut saja, itu banyak sekali terdampak dan pilihannya hanya satu yaitu lakukan efisiensi dalam bidang pengeluaran termasuk cost produksi, energi sampai tenaga kerja,” jelasnya.
Herry memaparkan, ketahanan perusahaan di Tangerang bila perang berlanjut tidak sampai tiga bulan. Kondisi ini, kata dia, cukup mengkhawatirkan bagi perekonomian. Meski begitu, rencana efisiensi juga sempat tertunda karena pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak dan perang berhenti.
”Kalau sampai dua atau tiga bulan perusahaan sudah tidak kuat bertahan lagi. Mau tidak mau lakukan efisiensi iya salah satunya biaya tenaga kerja. Sektor yang terkena duluan itu padat karya yang terasa karena cost-nya besar, perusahaan yang bahan bakunya dikirim oleh pihak perusahaan yang berlokasi di dalam konflik. Contohnya perusahaan di sini impor bahan baku dari Timur Tengah dan sedang konflik maka bahan baku mahal. Juga perusahaan yang terafiliasi dengan perusahaan di Timur Tengah,” jelasnya.(sep
Sumber:
