BJB FEBRUARI 2026

Pemkot Tangerang Matangkan Perencanaan Kota Aerotropolis

Pemkot Tangerang Matangkan Perencanaan Kota Aerotropolis

Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono bersama Kepala OPD dan Forkominda serta peserta berfoto usai pelaksanaan kegiatan Musrembang RKPD, di ruang Al Amanah, Selasa (7/4).--

TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Pemkot Tangerang mulai menyusun peta jalan ambisius untuk mentransformasi wilayahnya menjadi Kota Aerotropolis. Hal ini menjadi fokus utama dalam kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 yang digelar pada Selasa, (7/4).

Kegiatan tersebut dihadiri pula Dirjen Transportasi dan Multimoda dari Kementerian Perhubungan, Mohammad Rizal Wasal sebagai keynote speaker.

Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono Hasan mengatakan, Pemkot Tangerang tahun ini tengah mematangkan perencanaan Kota Aerotropolis dalam RKPD yang akan direalisasikan pada tahun 2027.

Maryono menjelaskan, konsep Aerotropolis ini akan menjadikan Kota Tangerang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mengintegrasikan bisnis, jasa, perkantoran, hingga logistik di sekitar kawasan bandara.

"Jadi Musrembang RKPD ini kita mematangkan perencanaan Kota Aetropolis yang akan direalisasikan pada 2027 nanti,," ungkap Maryono usai memberikan sambutan.

Maryono memaparkan, perencanaan yang matang di tahun 2026 menjadi kunci agar realisasi di tahun 2027 dapat berjalan optimal.

"Banyak wacana yang perlu kita benahi dalam segi perencanaan menuju Kota Aerotropolis. Kami berharap kawasan ini nantinya menjadi penopang utama sistem ekonomi dan keuangan, yang berkontribusi signifikan terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," papar Maryono.

Dikatakannya, konsep Aerotropolis tidak hanya berfokus pada Kecamatan Benda sebagai lokasi Bandara Soekarno-Hatta, tetapi juga mencakup wilayah Batuceper, Neglasari, Cipondoh, Pinang, hingga Karawaci. Ia menyebut, wilayah-wilayah tersebut sebagai bagian dari "segitiga perencanaan" yang akan mengintegrasikan transportasi udara dengan transportasi darat.

"Secara ekonomi, kita ingin masyarakat terlibat melalui UMKM, sektor jasa, perdagangan, hingga kesehatan dan pergudangan," ujar Maryono.

Dalam proses pembangunan ini, kata Maryono, Pemkot Tangerang berkomitmen untuk melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga media massa, guna memastikan transparansi dan partisipasi publik dalam setiap kebijakan yang diambil.

Selain isu Kota Aerotropolis, Maryono juga menanggapi isu strategis mengenai penanganan banjir dan sampah. Pemkot Tangerang berkomitmen melakukan pengadaan pekerjaan dan pembebasan lahan untuk pembangunan tanggul yang ditargetkan mulai terealisasi pada 2026 hingga 2027.

Terkait wilayah perbatasan, khususnya dengan Pemprov DKI Jakarta di area Cipondoh dan Larangan, Pemkot Tangerang terus menjalin komunikasi intensif.

"Kami sudah melakukan koordinasi. Langkah berikutnya adalah menindaklanjuti apa yang sudah dimusyawarahkan agar bisa direalisasikan bersama pada tahun 2026 ini," pungkasnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang Yeti Rohaeti mengungkapkan, pada tahun 2027 nanti akan menjadi momentum krusial dengan fokus utama pada pengembangan wilayah Benda sebagai "Ring 1" ekonomi baru.

Yeti menjelaskan, konsep Aerotropolis bukan sekadar rencana jangka pendek, melainkan visi berkelanjutan yang sudah mulai diproses sejak tahun 2025. Strategi ini dibagi ke dalam tiga zona utama yaitu zona 1 Barat terdiri dari wilayah Benda, Neglasari dan Batuceper sebagai simpul utama. Kemudian zona 2 yang merupakan zona Tengah akan difokuskan pembangunan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Poris Plawad. Lalu pada zona 3 wilayah timur, yaitu kawasan Alam Sutera dan sekitarnya.

"Pada 2027 nanti kita fokus garap di zona ring 1 yaitu Benda, Neglasari dan Batuceper, kawasan Bandara," ungkap Yeti

Yeti menjabarkan,  prioritas utama di tahun 2027 adalah optimalisasi kawasan Benda, Neglasari dan Batuceper. Ia menyebutkan, selama ini terdapat potensi ekonomi besar yang tertahan di lahan milik Angkasa Pura maupun pengembang swasta karena kendala akses.

"Kita coba buat akses. Pemerintah membangun infrastruktur jalan dengan harapan lahan-lahan yang saat ini 'tidur' bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Jika akses terbuka, investor akan masuk untuk membangun hotel, restoran, hingga apartemen," ujar Yeti.

Dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat transit, Pemkot Tangerang membidik tiga keuntungan utama bagi daerah. Yaitu, munculnya kawasan bisnis baru yang menghidupkan ekonomi lokal yang bakal menumbuhkan ekonomi baru. Kemudian, keuntungan lainnya, dengan dibangunnya kawasan Aerotropolis, akan menciptakan lapangan kerja baru secara otomatis bagi warga sekitar.

"Artinya di sana bakal adanya penyerapan tenaga kerja. Kemudian keuntungan lainnya akan menjadi pundi penambahan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi dari sektor jasa dan properti," paparnya.

Selain wilayah di tiga wilayah tersebut, Yeti juga memberikan kabar terbaru mengenai pengembangan kawasan tengah di Poris Plawad. Setelah sempat tertunda akibat pandemi COVID-19, koordinasi dengan kementerian terkait kini mulai diintensifkan kembali.

"Konsepnya sudah matang di kementerian. Sekarang kita proses kembali tahapannya secara bertahap. Tidak mungkin sekaligus, tapi satu per satu kita laksanakan," tambahnya.

Untuk wilayah Timur  yaitu, Kecamatan Pinang hingga Ciledug, perencanaan akan disinergikan dengan proyek strategis nasional, yaitu pembangunan MRT jalur Kembangan - Balaraja yang melewati Alam Sutera. Pemkot Tangerang berencana membuka jalur dari Rasuna Said hingga Jalan MH Thamrin sebagai pendukung moda transportasi massal tersebut sekaligus solusi memecah kemacetan. Meskipun fokus di tahun 2027 tertuju pada tiga wilayah yaitu, Kecamatan Benda, Neglasari dan Batuceper, Yeti menegaskan bahwa seluruh proses mulai dari kajian teknis, pembebasan lahan, hingga kerja sama dengan pengembang akan digarap sepanjang tahun 2026 ini.

"Targetnya, semua proses ini berjalan berkesinambungan sehingga pada tahun 2029, apa yang kita harapkan—baik itu konektivitas MRT maupun pusat ekonomi baru—dapat terealisasi sepenuhnya. Kita ingin Kota Tangerang bukan hanya tempat transit, tapi juga menjadi tujuan wisata dan bisnis yang mandiri," tutupnya. (*)

Sumber: