BJB FEBRUARI 2026

Rusunawa Kota Tangsel Jadi Pilihan Warga Berpenghasilan Rendah

Rusunawa Kota Tangsel Jadi Pilihan Warga Berpenghasilan Rendah

Gedung Rusunawa Situ Gintung yang berada di Kelurahan Serua, Ciputat berdiri megah.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Tingkat hunian rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kota Tangsel hampir penuh. Dua rusunawa yang berada di Kelurahan Se­rua, Kecamatan Ciputat, yakni Rusunawa Situ Gintung dan Rusunawa Serua, saat ini dido­minasi oleh masyarakat ber­penghasilan rendah (MBR).

Kepala UPTD Rusunawa pada Dinas Perumahan Rakyat, Ka­wasan Permukiman dan Perta­nahan (Disperkimta) Kota Tang­sel Bagus Rahadian Adinu­g­roho mengatakan, tingkat hu­nian di Rusunawa Situ Gin­tung mencapai 98 persen.

“Dari total 74 unit, hanya ter­sisa dua unit yang kosong. Itu pun memang diperuntukkan khusus bagi penyandang disa­bilitas,” ujarnya kepada Tange­rang Ekspres, Senin (6/4).

Bagus menambahkan, dua unit tersebut hingga kini belum terisi lantaran sebagian pe­nyandang disabilitas cenderung memilih tinggal dekat dengan keluarga. “Biasanya mereka ingin dekat keluarga karena kalau ada kebutuhan mendesak bisa lebih cepat ditangani. Jadi unit khusus difabel ini tidak bisa dialihkan untuk umum,” tambahnya.

Menurutnya, Rusunawa Situ Gintung sendiri terdiri dari em­pat lantai. Sementara Rusu­nawa Serua memiliki lima lantai dengan total 70 unit, namun ukuran unitnya lebih luas. “Ka­lau di Rusunawa Serua luasnya sekitar 36 meter persegi, se­dangkan Situ Gintung sekitar 30 meter persegi,” jelasnya.

Untuk Rusunawa Serua, saat ini tercatat sebanyak 63 unit telah terisi, sementara 7 unit lainnya masih kosong, dengan satu unit di antaranya dalam kondisi rusak. Di rusunawa ini juga tersedia tujuh unit khu­sus bagi penyandang disa­bilitas.

Dari sisi tarif, sewa di Ru­sunawa Situ Gintung berkisar antara Rp240 ribu hingga Rp300 ribu per bulan, tergantung lan­tai. Sedangkan di Rusunawa Serua, tarif sewa berada di ki­saran Rp520 ribu hingga Rp600 ribu per bulan.

Bagus menegaskan, seluruh penghuni rusunawa merupakan warga Kota Tangsel yang dibuk­tikan dengan KTP setempat serta telah tinggal minimal tiga tahun.

“Karena ini ada subsidi dari pemerintah daerah, jadi me­mang diperuntukkan bagi war­ga Kota Tangsel. Tarif yang mereka bayar itu sudah disub­sidi,” ungkapnya.

Bagus mengungkapkan, ma­yoritas penghuni rusunawa bekerja sebagai pengemudi ojek online maupun pengemudi aplikasi. Sebagian besar dari mereka belum memiliki ken­daraan pribadi dan masih me­nyewa atau mencicil ken­daraan untuk bekerja.

Namun demikian, pihaknya menerapkan aturan ketat terkait kepemilikan aset, termasuk kendaraan. Hal ini untuk me­mastikan rusunawa tetap tepat sasaran bagi masyarakat ber­penghasilan rendah.

“Kami rutin melakukan eva­luasi. Kalau ada penghuni yang secara ekonomi sudah me­ning­kat, misalnya sudah mam­pu membeli mobil pribadi, akan kami evaluasi kelaya­kan­nya untuk tetap tinggal di ru­sunawa,” tegasnya.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar fasilitas rusunawa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat yang mem­butuhkan. “Rusunawa ini untuk masnyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Jadi harus tepat sasaran, jangan sampai yang sudah mampu justru tetap ting­gal di sini,” tutupnya. (bud)

Sumber: