Rusunawa Kota Tangsel Jadi Pilihan Warga Berpenghasilan Rendah
Gedung Rusunawa Situ Gintung yang berada di Kelurahan Serua, Ciputat berdiri megah.-Tri Budi Sulaksono/Tangerang Ekspres -
TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Tingkat hunian rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kota Tangsel hampir penuh. Dua rusunawa yang berada di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, yakni Rusunawa Situ Gintung dan Rusunawa Serua, saat ini didominasi oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Kepala UPTD Rusunawa pada Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimta) Kota Tangsel Bagus Rahadian Adinugroho mengatakan, tingkat hunian di Rusunawa Situ Gintung mencapai 98 persen.
“Dari total 74 unit, hanya tersisa dua unit yang kosong. Itu pun memang diperuntukkan khusus bagi penyandang disabilitas,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Senin (6/4).
Bagus menambahkan, dua unit tersebut hingga kini belum terisi lantaran sebagian penyandang disabilitas cenderung memilih tinggal dekat dengan keluarga. “Biasanya mereka ingin dekat keluarga karena kalau ada kebutuhan mendesak bisa lebih cepat ditangani. Jadi unit khusus difabel ini tidak bisa dialihkan untuk umum,” tambahnya.
Menurutnya, Rusunawa Situ Gintung sendiri terdiri dari empat lantai. Sementara Rusunawa Serua memiliki lima lantai dengan total 70 unit, namun ukuran unitnya lebih luas. “Kalau di Rusunawa Serua luasnya sekitar 36 meter persegi, sedangkan Situ Gintung sekitar 30 meter persegi,” jelasnya.
Untuk Rusunawa Serua, saat ini tercatat sebanyak 63 unit telah terisi, sementara 7 unit lainnya masih kosong, dengan satu unit di antaranya dalam kondisi rusak. Di rusunawa ini juga tersedia tujuh unit khusus bagi penyandang disabilitas.
Dari sisi tarif, sewa di Rusunawa Situ Gintung berkisar antara Rp240 ribu hingga Rp300 ribu per bulan, tergantung lantai. Sedangkan di Rusunawa Serua, tarif sewa berada di kisaran Rp520 ribu hingga Rp600 ribu per bulan.
Bagus menegaskan, seluruh penghuni rusunawa merupakan warga Kota Tangsel yang dibuktikan dengan KTP setempat serta telah tinggal minimal tiga tahun.
“Karena ini ada subsidi dari pemerintah daerah, jadi memang diperuntukkan bagi warga Kota Tangsel. Tarif yang mereka bayar itu sudah disubsidi,” ungkapnya.
Bagus mengungkapkan, mayoritas penghuni rusunawa bekerja sebagai pengemudi ojek online maupun pengemudi aplikasi. Sebagian besar dari mereka belum memiliki kendaraan pribadi dan masih menyewa atau mencicil kendaraan untuk bekerja.
Namun demikian, pihaknya menerapkan aturan ketat terkait kepemilikan aset, termasuk kendaraan. Hal ini untuk memastikan rusunawa tetap tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kami rutin melakukan evaluasi. Kalau ada penghuni yang secara ekonomi sudah meningkat, misalnya sudah mampu membeli mobil pribadi, akan kami evaluasi kelayakannya untuk tetap tinggal di rusunawa,” tegasnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar fasilitas rusunawa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan. “Rusunawa ini untuk masnyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Jadi harus tepat sasaran, jangan sampai yang sudah mampu justru tetap tinggal di sini,” tutupnya. (bud)
Sumber:
