BJB FEBRUARI 2026

SMPN 2 Sindang Jaya: Siswa Diminta Fokus Ibadah Selama Ramadan

SMPN 2 Sindang Jaya: Siswa Diminta Fokus Ibadah Selama Ramadan

FOKUS BELAJAR: SMPN 2 Sindang Jaya melarang siswa untuk mengikuti kegiatan perang sarung selama ramadan.(Randy/Tangerang Ekspres)--

TANGERANGEKSPRES.ID, SINDANG JAYA — Pihak SMPN 2 Sindang Jaya, Kecamatan  Sin­dang Jaya, Kabupaten Tangerang, meminta seluruh siswa untuk tidak terlibat dalam aksi perang sarung yang kerap terjadi saat pelaksanaan salat tarawih maupun menjelang sahur di bulan Ra­madan. 

Sekolah menilai kegiatan terse­but merupakan perilaku negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. 

Kepala SMPN 2 Sindang Jaya Suderajat menegaskan, perang sarung bukanlah tradisi yang pa­tut dilestarikan, melainkan ke­biasaan yang dapat berujung pada tindakan yang melanggar hukum.

“Perang sarung itu bukan bagian dari ibadah Ramadan. Justru itu kegiatan yang sangat merugikan. Kami tidak ingin ada satu pun siswa SMPN 2 Sindang Jaya yang terlibat di dalamnya,” ujarnya ke­pada Tangerang Ekspres, Jumat (20/2).

Menurutnya, aksi perang sarung sering kali berawal dari candaan, namun bisa berkembang menjadi perkelahian yang membahayakan. Tidak jarang sarung yang diguna­kan telah dimodifikasi dengan benda keras di dalamnya, sehingga berisiko menyebabkan cedera.

“Kami mengingatkan kepada seluruh siswa, jangan sampai ha­nya karena ikut-ikutan, masa depan kalian menjadi taruhan. Perang sarung bisa berujung ta­wuran, bahkan bisa masuk ranah kriminal jika sampai melukai orang lain. Itu sangat kami sa­yangkan,” katanya.

Suderajat menambahkan, bulan Ramadan seharusnya diman­faat­kan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitas diri, bukan justru diisi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.

“Ramadan adalah bulan penuh berkah. Anak-anak seharusnya fokus menjalankan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, membantu orang tua di rumah, dan mem­perbanyak amal kebaikan. Jangan sampai malam Ramadan diisi dengan kegiatan negatif,” pa­par­nya.

Ia juga mengimbau, para orang tua untuk ikut mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari setelah salat tarawih maupun menjelang sahur.

“Kami berharap ada sinergi an­tara sekolah dan orang tua. Peng­awasan itu penting. Jangan sampai anak keluar rumah tanpa tujuan yang jelas di malam hari. Jika tidak diawasi, mereka bisa terpe­ngaruh lingkungan yang kurang baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihak sekolah telah memberikan arahan khusus ke­pada siswa melalui wali kelas dan guru Pendidikan Agama Islam agar menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan ka­rakter.

“Kami terus mengingatkan siswa bahwa menjaga perilaku selama Ramadan adalah bagian dari pem­belajaran karakter. Bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana mereka bisa men­jadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik,” ungkapnya.(ran)

Sumber: