SMPN 2 Sindang Jaya: Siswa Diminta Fokus Ibadah Selama Ramadan
FOKUS BELAJAR: SMPN 2 Sindang Jaya melarang siswa untuk mengikuti kegiatan perang sarung selama ramadan.(Randy/Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SINDANG JAYA — Pihak SMPN 2 Sindang Jaya, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, meminta seluruh siswa untuk tidak terlibat dalam aksi perang sarung yang kerap terjadi saat pelaksanaan salat tarawih maupun menjelang sahur di bulan Ramadan.
Sekolah menilai kegiatan tersebut merupakan perilaku negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kepala SMPN 2 Sindang Jaya Suderajat menegaskan, perang sarung bukanlah tradisi yang patut dilestarikan, melainkan kebiasaan yang dapat berujung pada tindakan yang melanggar hukum.
“Perang sarung itu bukan bagian dari ibadah Ramadan. Justru itu kegiatan yang sangat merugikan. Kami tidak ingin ada satu pun siswa SMPN 2 Sindang Jaya yang terlibat di dalamnya,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Jumat (20/2).
Menurutnya, aksi perang sarung sering kali berawal dari candaan, namun bisa berkembang menjadi perkelahian yang membahayakan. Tidak jarang sarung yang digunakan telah dimodifikasi dengan benda keras di dalamnya, sehingga berisiko menyebabkan cedera.
“Kami mengingatkan kepada seluruh siswa, jangan sampai hanya karena ikut-ikutan, masa depan kalian menjadi taruhan. Perang sarung bisa berujung tawuran, bahkan bisa masuk ranah kriminal jika sampai melukai orang lain. Itu sangat kami sayangkan,” katanya.
Suderajat menambahkan, bulan Ramadan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitas diri, bukan justru diisi dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.
“Ramadan adalah bulan penuh berkah. Anak-anak seharusnya fokus menjalankan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, membantu orang tua di rumah, dan memperbanyak amal kebaikan. Jangan sampai malam Ramadan diisi dengan kegiatan negatif,” paparnya.
Ia juga mengimbau, para orang tua untuk ikut mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari setelah salat tarawih maupun menjelang sahur.
“Kami berharap ada sinergi antara sekolah dan orang tua. Pengawasan itu penting. Jangan sampai anak keluar rumah tanpa tujuan yang jelas di malam hari. Jika tidak diawasi, mereka bisa terpengaruh lingkungan yang kurang baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak sekolah telah memberikan arahan khusus kepada siswa melalui wali kelas dan guru Pendidikan Agama Islam agar menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter.
“Kami terus mengingatkan siswa bahwa menjaga perilaku selama Ramadan adalah bagian dari pembelajaran karakter. Bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana mereka bisa menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik,” ungkapnya.(ran)
Sumber:
