Seorang Ibu Muda Tersengat Listrik Ketika Hendak Memasak Nasi
KERANDA JENAZAH: Keranda jenazah Syaidah binti Unus digotong warga saat menuju tempat pemakaman.(Pemerintan Desa Cirumpak for Tangerang Ekspres)--
TANGERANGEKSPRES.ID, KRONJO — Di tengah genangan air yang merendam lantai rumah, ia meraih kabel alat pemasak nasi. Sebuah tindakan rutin yang mendadak berubah menjadi tragedi. Sengatan listrik seketika melumpuhkan tubuhnya. Syaidah berpulang di hari yang seharusnya ia lalui dengan menjaga anak-anaknya.
Malam itu, Jumat tengah malam, air tidak datang sebagai tamu yang mengetuk pintu. Ia datang seperti pencuri, merayap dari bibir sungai, menembus celah pintu, hingga menenggelamkan harapan warga Desa Cirumpak.
Namun, di antara ribuan jiwa yang kini mengungsi ke bahu jalan, ada satu duka yang tak akan bisa surut meski banjir mengering, yakni kisah Syaidah binti Unus.
Minggu pagi (25/1), suasana di Kampung Pinggir Kali, RT 10, masih diselimuti kecemasan. Air banjir masih betah mengepung pemukiman. Syaidah (27), seorang ibu muda yang sehari-harinya menyambung hidup sebagai pedagang gorengan, hanya ingin melakukan tugas sederhana seorang ibu, memasak nasi untuk kedua anaknya.
Di tengah genangan air yang merendam lantai rumah, ia meraih kabel alat pemasak nasi. Sebuah tindakan rutin yang mendadak berubah menjadi tragedi. Sengatan listrik seketika melumpuhkan tubuhnya. Syaidah berpulang di hari yang seharusnya ia lalui dengan menjaga anak-anaknya.
”Kejadiannya Minggu pagi. Beliau sedang ingin masak nasi,” ujar Kepala Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang H. Ridwan Afif, dengan nada getir di Posko Kesehatan.
Hari itu juga, jenazah Syaidah dibawa menjauh dari air yang merenggut nyawanya, dimakamkan dengan tenang di tanah keluarga di Desa Buniayu. Tragedi Syaidah adalah puncak gunung es dari penderitaan ribuan jiwa warga Desa Cirumpak. Berdasarkan data per Senin (26/1), sebanyak 1.787 rumah terendam. Di sepanjang jalan desa, pemandangan memilukan tersaji, warga tidur berjajar di atas beton jalan.
Kasur-kasur basah, tumpukan baju, dan wajah-wajah lelah menjadi pemandangan umum sejak air naik pekan lalu. Hingga saat ini, kondisi mayoritas wilayah Cirumpak masih berstatus masih tergenang dengan ketinggian air mencapai sepinggul orang dewasa.
Banjir ini sebenarnya adalah luka lama yang terus menganga. H. Ridwan Afif mengungkapkan, pihak desa bukan tanpa upaya. Usulan pembangunan tanggul kali sudah diajukan sejak November 2025 lalu sebagai langkah antisipasi.
Namun, birokrasi rupanya bergerak lebih lambat daripada debit air. Sebelum tanggul sempat terbangun, bencana sudah lebih dulu menyapa. Kini, yang tersisa hanyalah angka-angka di tabel laporan. 1.883 Kepala Keluarga terdampak, ribuan jiwa mengungsi, dan satu nyawa melayang demi sepiring nasi.
Di Desa Cirumpak, malam ini mungkin air masih tinggi. Di jalanan, warga masih akan mencoba memejamkan mata di bawah langit malam. Namun bagi dua anak Syaidah, dunia mereka tak lagi sama. Mereka kehilangan ibu, tepat saat rumah mereka berubah menjadi lautan.(zky)
Sumber:

