15 Kecamatan Berpotensi Gagal Panen
KEKERINGAN: Ilustrasi lahan pertanian yang mengalami kekeringan.(Disway)--
TANGERANGEKSPRES.ID, TANGERANG — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang memperkirakan lahan pertanian di 15 Kecamatan terancam gagal panen akibat kemarau ekstrem.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono mengatakan, beberapa kecamatan yang terancam mengalami kekeringan hingga gagal panen salah satunya meliputi Rajeg, Gunung Kaler, Mekar Baru, dan Kronjo.
Dikatakan Ujang, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan pada lahan pertanian di 15 Kecamatan. ”Terkait dengan lokasi yang mengalami kekeringan hingga saat ini pendataan masih berproses,” ujar Ujang, Rabu (22/7).
Potensi kekeringan hingga gagal panen yang melanda 15 Kecamatan tersebut, kata Ujang, disebabkan oleh Elnino Godzilla atau kemarau panjang mulai dari Agustus hingga Oktober 2026. ”Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG Stasiun Klimatologi Banten menunjukan bahwa prakiraan kemarau panjang puncaknya Agustus sampai Oktober 2026 dengan prediksi durasi musim kemarau berkisar antara 19 hingga 27,” ungkapnya.
Ujang menyebut, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 9 Tahun 2020 Luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Tangerang sebesar 13.931 hektare.
Namun, Ujang mengungkapkan, pihaknya masih belum dapat memprakirakan luas lahan pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan hingga gagal panen. ”Kan masih berproses karena dampaknya diprakirakan sampai Oktober 2026,” tuturnya.
Ujang menambahkan, sebagai upaya mitigasi potensi gagal panen pada lahan pertanian, pihaknya akan memberikan bantuan berupa pembangunan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan pada petani yang terdampak. ”Kita juga akan melakukan optimalisasi lahan , memberikan bantuan benih bagi kelompok tani yang gagal panen, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Desa Pasir Ampo Kecamatan Kresek, Sukemi mengatakan, dari 450 hektare lahan sawah di wilayah tersebut, sebanyak 250 hektare diantaranya mengalami kekeringan. Namun, kata Sukemi, kekeringan yang melanda lahan persawahan di wilayahnya tidak membuat lahan tersebut berpotensi gagal panen. ”Luas keseluruhan sawah di Desa Pasir Ampo itu ada 450 Hektare, tapi yang kekeringan ada 250 Hektare. Untungnya hasil panennya bagus karena ada irigasi,” ujar Sukemi.(dan)
Sumber:

