Dinkes Belum Punya Alat Deteksi Influenza A
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti, saat ditemui wartawan di Pemkab Serang, beberapa hari lalu. (AGUNG GUMELAR/TANGERANG EKSPRES)--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang belum memiliki alat untuk mendeteksi influenza A atau rapid test. Hal itu membuat temuan kasus influenza A belum bisa dideteksi secara pasti.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti saat ditemui wartawan di Pemkab Serang, beberapa hari lalu.
Istianah mengatakan, pihaknya belum menerima laporan hingga saat ini dari Puskesmas terkait adanya temuan kasus influenza A di Kabupaten Serang.
Hal itu dikarenakan belum adanya alat untuk bisa mendeteksinya, sehingga temuan kasusnya tidak bisa dipastikan secara pasti hanya berdasarkan gejala-gejala klinis.
"kita belum memiliki alat untuk mengeceknya atau rapid test-nya kita belum ada, maka untuk kasus influenza A belum bisa kita pastikan. Jadi paling kita baru berdasarkan gejala-gejala klinis saja," katanya, Minggu (25/10).
Istianah mengatakan, Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) yang memantau laporan dari Puskesmas dan rumah sakit belum menangkap adanya kenaikan kasus influenza A di Kabupaten Serang.
Secara gejalanya untuk influenza A ini mirip dengan flu biasa yaitu ada demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan, namun biasanya penyakit ini cenderung lebih panjang dibandingkan dengan flu biasa.
"Kalau flu biasa itu palingan dua sampai lima hari sudah bisa sembuh, kalau influenza bisa lebih dari satu minggu. Namun dari laporan teman-teman Puskesmas sih, kita belum menangkap peningkatan kasus dan biasanya kalau peningkatan kasus kan ada alert nya di sistem SKDR," ujarnya.
Dikatakan Istianah, influenza A termasuk penyakit menular karena virusnya memiliki banyak jenis, salah satunya yang menjadi trending topic saat ini adalah Flu A.
Adapun dampak terburuk dari influenza ini adalah komplikasi pneumonia atau radang paru-paru.Virus ini juga bisa menyebar ke organ lain, termasuk ke otak yang menyebabkan meningitis ataupun ensefalitis.
"Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya radang paru-paru, sesak napas sehingga kadang-kadang butuh bantuan napas pakai alat ventilator," ucapnya.
Kata Istianah, meski bisa menyerang semua usia namun kelompok rentan paling berisiko adalah bayi, balita, lansia, serta orang dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Kemudian terkait isu gejala yang mirip Covid-19, tentu pihaknya tidak bisa memastikannya tanpa pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
"Harus ada bukti di rapid test ya, ternyata positif Covid baru kita bisa menyampaikan itu apakah Covid, flu A, flu B atau flu yang lain. Harus diwaspadai masyarakat, terapkan hidup bersih dan sehat supaya terhindar dari influenza," tuturnya. (agm)
Sumber:
