Generasi Muda Diajak Melek Finansial
Jajaran OJK bersama Pemprov Banten foto bersama mahasiswa dalam acara LIKE IT di UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, Kamis (10/9).--
TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemprov Banten mendorong generasi muda, seperti mahasiswa untuk meningkatkan literasi keuangan yang masif. Langkah ini dilakukan lantaran mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital, namun tidak semua memiliki kecakapan finansial.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono, mengatakan saat ini akses terhadap produk dan layanan keuangan semakin mudah.
Menurutnya, semakin mudah akses terhadap produk dan layanan keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami risiko dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Sehingga kemampuan untuk mengambil keputusan yang sadar dan bertanggung jawab sangat diperlukan.
"Ada beberapa kata kunci yang dapat dilakukan. Pertama, kelola. Kedua, lindungi. Ketiga, tumbuhkan. Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita. Lindungi apa yang sudah kita miliki dengan selalu ingat legal dan logis, serta tumbuhkan semuanya dengan tujuan yang jelas," katanya, saat memberikan sosialisasi Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT), di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kota Serang, Kamis (10/9).
Ia menjelaskan, lewaf literasi keuangan, generasi muda diharapkan terhindar dari sikap Fear of Missing Out (FOMO) dan Fear of Other People's Opinions (FOPO) dalam mengelola keuangannya.
Diketahui, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diselenggarakan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan semakin luas, namun masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku keuangan masyarakat.
Tantangan tersebut juga terlihat pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan SNLIK 2026, indeks literasi keuangan kelompok pelajar/mahasiswa tercatat sebesar 62,72 persen, masih di bawah indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen. Di sisi lain, kelompok pelajar/mahasiswa memiliki indeks inklusi keuangan atau ketersediaan akses keuangan sebesar 92, 76 persen.
"Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memastikan kepemilikan akses generasi muda terhadap produk dan layanan keuangan berjalan selaras dengan peningkatan kecakapan dalam menggunakannya secara tepat dan bertanggung jawab," jelasnya.
Gubernur Banten Andra Soni, mengatakan penguatan literasi keuangan bagi generasi muda perlu diarahkan tidak hanya agar mereka siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, serta melindungi diri dari kejahatan keuangan.
"Pemerintah Provinsi Banten berharap sinergi OJK Provinsi Banten melalui berbagai program literasi keuangan dapat membangun generasi muda Banten yang bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, menjaga dirinya dari kejahatan keuangan, dan akhirnya menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Banten," ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan pengetahuan, kehati-hatian, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Hal tersebut penting mengingat berbagai modus kejahatan keuangan digital semakin beragam, antara lain phishing, penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan, tautan palsu, akun media sosial palsu, investasi ilegal, pinjaman online ilegal, serta berbagai modus yang memanfaatkan teknologi digital dan rekayasa sosial. (mam)
Sumber:
