Banten Bersiap Hadapi Musim Hujan

Senin 02-11-2026,21:31 WIB
Reporter : Tri Budi Sulaksono
Editor : Andi Suhandi

TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Ancaman musim hujan mulai membayangi wilayah Banten. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan datang secara bertahap mulai November hingga Desember 2026. Namun, di tengah meningkatnya potensi hujan, ribuan warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) justru masih berjibaku menghadapi krisis air bersih akibat kekeringan.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II mencatat, awal musim hujan di Banten tidak berlangsung serentak. Sejumlah wilayah diprakirakan mulai diguyur hujan pada awal November, sebagian lainnya pada pertengahan November, sementara beberapa daerah baru memasuki musim hujan pada Desember mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, perbedaan waktu masuknya musim hujan membuat masyarakat perlu memperhatikan informasi prakiraan cuaca sesuai wilayah masing-masing.

”Musim hujan di wilayah Provinsi Banten diprakirakan mulai berlangsung pada November hingga Desember 2026, dengan waktu awal musim hujan yang berbeda-beda di setiap wilayah,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Senin (2/11).

Ana mengingatkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak serta-merta menjadi penanda bahwa suatu daerah telah memasuki musim hujan.

Peningkatan curah hujan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari dinamika atmosfer menjelang pergantian musim. Berdasarkan analisis BMKG, kondisi ini dipengaruhi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer lainnya di wilayah Indonesia.

Selain itu, pelemahan monsun Australia yang disertai penguatan aliran angin dari Asia turut meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah Banten.

”Meski demikian, penetapan awal musim hujan tetap mengacu pada analisis curah hujan dasarian dan kriteria yang digunakan BMKG,” jelasnya.

Berdasarkan analisis Hari Tanpa Hujan (HTH) dari pos pengamatan hujan dan peralatan otomatis, sebagian besar wilayah Banten telah mengalami hujan. Kendati demikian, masih ada sejumlah kawasan yang belum tersentuh hujan, di antaranya sebagian kecil Kabupaten Serang bagian utara dan Kabupaten Lebak bagian selatan.

Ana menjelaskan, indikator HTH hanya menunjukkan lamanya suatu wilayah tidak mengalami hujan. Indikator tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menyimpulkan tingkat kekeringan.

Penilaian kekeringan juga harus mempertimbangkan akumulasi curah hujan, ketersediaan sumber air, hingga dampaknya terhadap pertanian dan kebutuhan masyarakat.

Di tengah masa peralihan musim, masyarakat juga diminta tidak lengah. Sebab, perubahan kondisi atmosfer berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.

Curah hujan tinggi dalam durasi singkat dapat memicu genangan, banjir, hingga tanah longsor, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana.

”BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, serta tidak mudah menyimpulkan bahwa musim hujan telah dimulai hanya berdasarkan kejadian hujan selama beberapa hari,” ungkapnya.

Di saat sebagian wilayah Banten mulai bersiap menyambut musim hujan, persoalan kekeringan di Kota Tangsel belum sepenuhnya teratasi. Bahkan, dampaknya masih meluas dan membebani ribuan keluarga.

Kategori :