Dinkes Antisipasi Lonjakan ISPA dan Penyakit Kulit

Senin 21-09-2026,20:38 WIB
Reporter : Syirojul Umam
Editor : Sutanto

TANGERANGEKSPRES.ID, SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat pergeseran tren pe­nyakit selama masa keke­ringan dan paparan abu vul­kanik Gunung Anak Krakatau. 

Meski kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) me­lan­dai sejak pertengahan pe­kan lalu, Dinkes kini mem­perketat pengawasan terhadap lonjakan kasus penyakit kulit akibat keterbatasan akses air bersih.

Kepala Dinas Kesehatan Pro­­vinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti menyebutkan, berda­sarkan data yang diterima per 16 September 2026, tren pen­derita ISPA di Banten me­mang menunjukkan penurunan dari puncaknya sebesar 7.015 kasus pada 7 September men­jadi 2.756 kasus. 

Sementara itu, grafik penya­kit kulit yang sempat melonjak hingga 664 kasus pada 11 September, kini melandai ke angka 328 kasus per 16 Sep­tember 2026. Adapun kasus sakit mata berada di angka 82 kasus.

Ati menjelaskan, penurunan kasus ISPA mulai terlihat sejak pertengahan pekan. Namun, kekeringan yang memicu ke­langkaan air bersih mulai berdampak pada timbulnya pe­nyakit kulit di tengah ma­syarakat.

"Kalau ISPA progresnya se­minggu kemarin sempat me­ngalami peningkatan, tapi mulai hari Rabu sudah terjadi penurunan. Namun yang me­ningkat di era kekeringan ini justru penyakit kulit. Hal ini berhubungan dengan sulitnya air bersih yang tidak ter­ako­modir dengan baik untuk ke­butuhan sehari-hari," kata­nya, Senin (21/9).

Ati menyebutkan, penam­bahan kasus baru penyakit kulit harian sempat mengalami peningkatkan tajam. 

"Dalam sehari penam­bahan­nya bisa sampai 100 orang. Jika sebelumnya konsentrasi utama kita ke ISPA dan iritasi mata, sekarang kita juga fokus menangani penyakit kulit," jelasnya.

Maka dari itu, guna meng­antisipasi dampak kesehatan yang meluas, Dinkes Provinsi Banten menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) selama 24 jam penuh di se­luruh wilayah Banten.

"Sampai hari ini kita masih siagakan 24 jam fasilitas pela­yanan kesehatan, terutama layanan kesehatan primer seperti puskesmas agar mudah diakses masyarakat," tegasnya.

Selain pelayanan di pus­kesmas, pihaknya juga me­maksimalkan program Cek Ke­sehatan Gratis (CKG) de­ngan sistem jemput bola ke permukiman warga. Program tersebut tidak hanya berfokus pada skrining awal, tetapi juga pemberian pengobatan lang­sung bagi warga yang ke­sulitan mengakses faskes.

"Bagi warga yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan primer, kita lakukan jemput bola untuk pemeriksaan dan pengobatan langsung, disertai dengan edukasi kesehatan," paparnya. 

Sebelumnya, Gubernur Ban­ten Andra Soni meminta ke­pa­da seluruh masyarakat Banten agar tidak takut mela­kukan pemeriksaan kesehatan saat Pogram CKG ke daerah-daerah. Ini menurutnya lang­kah preventif agar masyarakat tetap produktif dengan tingkat kesehatan yang terjaga baik.

"Memeriksa kesehatan itu dilakukan agar kita bisa men­deteksi penyakit lebih dini, mencegah komplikasi serius, serta mengantisipasi risiko gangguan kesehatan sejak awal sebelum menimbulkan gejala," ujarnya.

Selain dari kesadaran diri sendiri, menjaga kesehatan juga harus dimulai dari ling­kungan keluarga. Ruang ling­kup terkecil itu, menurut Andra, mempunyai peranan penting dalam mendorong terciptanya lingkungan yang sehat.

Kategori :