TANGERANGEKSPRES.ID, SERPONG — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangsel terus mendorong peningkatan kualitas guru madrasah dan Pendidikan Agama Islam (PAI), tidak hanya dari sisi kompetensi mengajar, tetapi juga kepribadian dan karakter.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Self Improvement: One Minute Awareness for Teacher yang digelar di Mumtaza Islamic School, Pondok Cabe Udik, Sabtu (8/8).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ke-2 dan diikuti guru madrasah serta guru PAI. Kegiatan mengangkat tema "Meneguhkan Jati Diri Guru, Mendidik dengan Cinta, Meneladani dengan Integritas".
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten Amrullah, Kepala Kankemenag Kota Tangsel Ahmad Rifaudin, Kasi Penmad Pudin Saepudin, jajaran pengawas madrasah, serta Ketua Yayasan Nawa Dinamika Sejahtera sekaligus Guru Besar FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mundzier Suparta.
Selain itu, kegiatan menghadirkan Coach Nagoy dan Bunda Dewi dari Nagoy Center serta Anrio Mafrizal dari MCKuadrat Character sebagai narasumber. Kepala Kantor Kemenag Kota Tangsel Ahmad Rifaudin mengatakan, perkembangan teknologi dan perubahan karakter generasi saat ini menuntut guru untuk terus melakukan refleksi dan memperkuat hubungan dengan peserta didik.
Menurutnya, peningkatan kualitas guru tidak cukup hanya melalui penguasaan materi pembelajaran. Guru juga harus memiliki kepribadian yang kuat sehingga mampu menjadi teladan bagi peserta didik.
"Program ini bukan sekadar pelatihan, tetapi ikhtiar mengajak guru berhenti sejenak dari rutinitas, mengenali kembali jati dirinya, lalu kembali ke ruang kelas dengan hati yang lebih lapang dan cinta yang lebih tulus kepada peserta didik," ujarnya.
Rifaudin berharan, kegiatan PKB dapat menjadi momentum bagi para guru untuk memperkuat kembali komitmen dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Banten Amrullah menegaskan bahwa guru harus menguasai empat kompetensi utama, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Keempat kompetensi tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dimiliki secara teori, tetapi harus diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari.
"Empat kompetensi, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, tidak hanya harus dimiliki, tetapi wajib dikuasai dan diimplementasikan dalam proses pembelajaran. PKB ini harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan," ujarnya.
Amrullah juga mengingatkan pentingnya kompetensi spiritual dan kepemimpinan guru sebagaimana amanat KMA Nomor 211 Tahun 2011. Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Nawa Dinamika Sejahtera sekaligus Guru Besar FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mundzier Suparta mengatakan, profesi guru merupakan tugas mulia karena berkaitan langsung dengan pembangunan manusia.
Ia menilai guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan potensi positif yang dimilikinya. "Tugas Bapak dan Ibu adalah membangkitkan potensi baik dan meredam potensi yang tidak baik dalam diri anak," singkatnya. (bud/and)