TANGERANGEKSPRES.ID, CIPUTAT — Mutu pendidikan di Kota Tangsel menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari peningkatan nilai Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadi salah satu indikator dalam rapor pendidikan. Sementara, mutu pendidikan di Kabupaten Serang di tingkat Provinsi Banten pada 2026 masih rendah.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel Billy Sukarsana mengatakan, peningkatan tersebut berdasarkan hasil pemantauan tim dari BPMT yang telah melakukan evaluasi ke daerah.“Alhamdulillah angka SPM kita naik. Bahkan dari seluruh kabupaten/kota di Banten, hanya Tangsel yang mengalami kenaikan,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Senin (4/5).
Billy menambahkan, jika dilihat dari rapor pendidikan tahun 2026, capaian Kota Tangsel tergolong baik. Secara skor, Kota Tangsel juga menjadi yang tertinggi, meski di sisi lain Kota Tangerang mengalami penurunan. Namun demikian, Billy mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, khususnya terkait ketersediaan tenaga pendidik.“Jumlah pendidik di Kota Tangsel ini masih menjadi PR. Kita masih membutuhkan tambahan tenaga pendidikan, karena ada hitung-hitungan ideal yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Selain itu, dari sisi sarana dan prasarana pendidikan, khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), secara umum sudah seimbang jika melihat aspek sebaran wilayah. Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), Pemkot Tangsel masih terus berupaya menambah kapasitas, terutama untuk sekolah negeri.
Saat ini, jumlah SMP negeri di Kota Tangsel tercatat sebanyak 24 sekolah. Untuk mengatasi keterbatasan daya tampung, Dindikbud juga menjalankan program bantuan pendidikan bagi siswa yang tidak tertampung di SMP negeri agar bisa bersekolah di SMP swasta.”Dengan berbagai upaya ini, kami berharap kualitas pendidikan terus meningkat, seiring dengan pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik dan pemerataan fasilitas pendidikan di wilayahnya,” tutupnya
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, hari pendidikan nasional (Hardiknas) sebagai momentum refleksi sekaligus penguat semangat untuk memajukan pendidikan nasional. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu namun, perjalanan tulus untuk memuliakan manusia.“Pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih sayang untuk memanusiakan manusia. Inti dari proses pendidikan adalah memuliakan,” ujarnya.
Pilar menambahkan, nilai-nilai yang diwariskan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, yakni asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan) sebagai fondasi pendidikan sejati. Nilai tersebut sejalan dengan amanat UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan pendidikan sebagai proses membangun harkat dan peradaban bangsa guna melahirkan insan yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, terampil, dan mandiri.
Terpisah, Dindikbud Kabupaten Serang, mengakui mutu pendidikan di Kabupaten Serang di tingkat Provinsi Banten pada 2026 masih rendah. Rendahnya mutu pendidikan dikarenakan pada kategori literasi dan numerasi siswa relatif menurun dibandingkan tahun lalu, karena penilaiannya kini melalui tes kompetisi akademik memakai komputer.
Sekretaris Dindikbud Kabupaten Serang Mohammad Hanafiah mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan seluruh pengawas pendidikan mulai dari tingkat PAUD, SD dan SMP, untuk mencari solusi bersama-sama, dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Serang. ”Untuk sementara mutu pendidikan di Kabupaten Serang, tingkat provinsi masih rendah maka kita kumpulkan seluruh pengawas mulai dari PAUD, SD dan SMP. Tujuannya untuk meningkatkan mutu pendidikan Kabupaten Serang, khususnya literasi dan numerasi itu siswa yang relatif menurun,” katanya, saat diwawancarai wartawan di gedung Setda Kabupaten Serang, Senin (4/5).
Dikatakan Hanafiah, dari hasil diskusi dengan para pengawas pendidikan mereka menyebutkan, bahwa siswa Kabupaten Serang masih kurang di ilmu digitalisasinya maka perlu ditingkatkan. Disinggung apakah cara mengajar guru dapat mempengaruhi kualitas ilmu pengetahuan siswa, kata Hanafiah, kemungkinan mempengaruhi juga namun bukan tidak baik melainkan belum tepat.”Ini juga yang menjadi pembahasan bersama, apakah teknik pengajarannya memang belum tepat atau seperti apa, perlu ada inovasi-inovasi baru yang dikembangkan lagi,” tuturnya.
Hanafiah mengatakan, jumlah tenaga pendidik di Kabupaten Serang masih kurang sekali, terlebih kini sudah tidak boleh merekrut tenaga pendidik yang ASN. Namun kenyataannya banyak sekolah yang menerima guru non ASN atau honorer sebagai tenaga pembantu, sementara kualitas dari pendidikannya masih tetap sama. (agm-bud)